BERITA TERKINI
Mozambique Jadi Incaran Pasokan LNG, Namun Dihantui Konflik dan Ketimpangan Manfaat

Mozambique Jadi Incaran Pasokan LNG, Namun Dihantui Konflik dan Ketimpangan Manfaat

JAKARTA — Ketidakpastian energi global mendorong banyak negara dan pelaku industri mencari sumber pasokan baru. Ketergantungan pada kawasan tertentu dinilai semakin berisiko, terutama ketika ketegangan geopolitik meningkat, termasuk di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.

Dalam situasi tersebut, Mozambique mulai dilirik sebagai alternatif. Negara di Afrika bagian selatan ini memiliki cadangan gas alam besar dan tengah mengembangkan proyek gas alam cair (LNG) berskala raksasa. Di mata sejumlah pihak, Mozambique tampak menawarkan peluang untuk memperluas sumber pasokan energi di tengah krisis global.

Namun, realitas di lapangan tidak sesederhana narasi peluang energi. Di balik proyek besar itu, Mozambique masih menghadapi konflik bersenjata yang belum terselesaikan. Sejak 2017, wilayah Cabo Delgado di utara negara tersebut menjadi pusat kekerasan yang memaksa ratusan ribu warga meninggalkan rumah mereka. Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana proyek energi berorientasi global dapat berjalan di tengah situasi yang tidak stabil.

Tantangan yang dihadapi juga tidak terbatas pada aspek keamanan. Persoalan lain yang jarang disorot adalah siapa yang benar-benar merasakan manfaat dari proyek LNG tersebut. Secara teori, investasi besar di sektor energi semestinya mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun dalam praktiknya, manfaatnya tidak selalu terdistribusi merata.

Laporan World Bank menyoroti bahwa sekalipun sektor energi memiliki potensi besar, distribusi manfaatnya kerap tidak menjangkau masyarakat lokal secara signifikan. Bagi sebagian warga, proyek ini justru dapat memunculkan risiko baru, mulai dari kehilangan akses lahan, tekanan ekonomi, hingga ketidakpastian masa depan.

Di titik inilah persoalan narasi pembangunan mengemuka. Janji pertumbuhan dan kemajuan kerap terdengar meyakinkan, tetapi tidak selalu mencerminkan kondisi yang dialami masyarakat di sekitar proyek. Ketika investasi masuk tanpa tata kelola yang kuat, hasilnya berpotensi bukan pemerataan kesejahteraan, melainkan ketimpangan yang semakin lebar.

Mozambique dinilai berisiko mengulang pola yang sering terjadi di negara kaya sumber daya: sumber daya melimpah, tetapi manfaatnya tidak dinikmati secara merata. Dalam konteks global, situasi ini juga menggambarkan dinamika diversifikasi energi yang lebih luas.

Upaya dunia mengurangi ketergantungan pada satu kawasan tidak selalu berarti menghilangkan ketergantungan itu sendiri. Yang kerap terjadi adalah pergeseran ketergantungan ke wilayah lain, termasuk Afrika. Dalam kerangka ini, Mozambique menjadi contoh bagaimana sebuah negara dapat diposisikan sebagai solusi kebutuhan energi global, namun pada saat yang sama menghadapi tekanan konflik dan ketimpangan.

Krisis energi memang menuntut solusi cepat. Namun, solusi yang diambil tanpa pemahaman memadai terhadap kondisi lokal berisiko memunculkan persoalan baru. Kasus Mozambique menunjukkan bahwa proyek energi global tidak otomatis menghadirkan pembangunan yang adil. Tanpa tata kelola yang kuat dan distribusi manfaat yang merata, investasi LNG justru berpotensi memperdalam ketimpangan dan memperpanjang konflik yang sudah ada.