BERITA TERKINI
Mitra Saruta Tetap Ekspor Benang dan Sarung Tangan ke 40 Negara di Tengah Konflik Global

Mitra Saruta Tetap Ekspor Benang dan Sarung Tangan ke 40 Negara di Tengah Konflik Global

PT Mitra Saruta tetap melanjutkan ekspor produk tekstil di tengah konflik global yang masih berlangsung. Perusahaan yang memproduksi benang dan sarung tangan itu saat ini mengekspor produknya ke lebih dari 40 negara.

Direktur PT Mitra Saruta, Hoo Yanto Andrian, mengatakan Jepang menjadi tujuan utama ekspor sarung tangan, disusul Amerika Serikat. Selain itu, perusahaan juga melayani puluhan pasar ekspor lainnya untuk dua produk utamanya, yakni benang dan sarung tangan.

Menurut Yanto, aktivitas ekspor sudah dijalankan sejak sekitar dua hingga tiga tahun setelah perusahaan berdiri pada 1989. Pada awalnya, Mitra Saruta memulai produksi di Surabaya dengan 20 mesin industri kecil.

Dalam operasionalnya saat ini, perusahaan mempekerjakan sekitar 1.700 karyawan. Yanto menjelaskan produksi yang dilakukan selama ini menggunakan bahan-bahan daur ulang.

Ia menyebut perusahaan memproses sekitar 3.000 ton limbah daur ulang (recycled waste) setiap bulan, dengan sekitar 10 persen bahan baku diimpor. Pasokan bahan baku tersebut juga melibatkan lebih dari 100 usaha kecil dan menengah (UKM) yang menyuplai limbah karena karakteristik material yang tidak selalu dapat diperoleh langsung dari perusahaan.

Dari sisi pengiriman, Yanto menyampaikan ekspor perusahaan setiap bulan mencapai hampir 100 kontainer. Kegiatan ekspor itu didukung pembiayaan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) yang telah berjalan sekitar 10 tahun.

Yanto mengakui dampak konflik global yang paling terasa adalah meningkatnya biaya energi yang berpengaruh pada logistik produksi. Namun, ia menilai upaya menjaga keberlanjutan operasional dalam beberapa tahun terakhir membantu perusahaan tetap menjaga stabilitas di tengah situasi global yang tidak menentu.

Ia juga menyinggung bahwa dinamika kenaikan biaya akibat energi pernah dialami dalam periode konflik sebelumnya, seperti perang di Iran serta perang Ukraina dan Rusia. Menurutnya, kondisi belakangan membuat pelaku usaha lebih sulit menentukan penyesuaian karena adanya dampak langsung maupun tidak langsung dari kenaikan energi.