Kota Solo menjadi lokasi pertemuan budaya Indonesia dan Jepang melalui kunjungan komunitas budaya Sousei Kagura. Rombongan menjalankan misi perdamaian selama lima hari, pada 18–22 Februari 2026, dengan agenda kolaborasi seni serta ritual lintas budaya.
Rombongan dipimpin Maestro generasi ke-80, Master Omote Hiroaki. Setelah menyambangi Bali pada tahun sebelumnya, Solo dipilih sebagai tujuan utama karena dinilai sebagai pusat yang konsisten menjaga tradisi. Kagura sendiri merupakan tarian sakral kuno Jepang yang berakar pada ritual Shinto sebagai persembahan kepada para dewa.
Selama berada di Solo, rombongan yang berjumlah 24 orang dari berbagai latar profesi—mulai profesor hingga artis—menjalani rangkaian kegiatan spiritual. Mereka mendoakan arwah pahlawan di Taman Makam Pahlawan dan mengunjungi Candi Sukuh.
Perwakilan Kagura Indonesia, I Dewa Nyoman Arka, menyampaikan kesan rombongan saat berada di Candi Sukuh. “Di Sukuh, energinya sangat luar biasa. Kami merasakan penyatuan antara Bumi Pertiwi dan Angkasa. Itu tempat yang sangat sakral bagi kami,” ujarnya.
Rangkaian ritual juga mencakup kungkum di Umbul Ngabean, Pengging, yang dilakukan sebagai upaya pembersihan diri secara jasmani dan rohani dari energi negatif.
Puncak kunjungan ditandai dengan kedatangan rombongan ke Keraton Kasunanan Surakarta. Mereka diterima oleh GKR Wandansari (Gusti Moeng). Master Omote Hiroaki menyatakan kekagumannya terhadap konsistensi Keraton dalam menjaga benda-benda budaya.
Agenda puncak lainnya berlangsung pada Sabtu (21/2) malam melalui pertunjukan kolaborasi Sousei Kagura dan Sanggar Semarak Candra Kirana di Ndalem DJoyokusuman. Acara tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani.
Dalam pertunjukan itu, dua tarian sakral tampil dalam satu panggung: Tari Srimpi yang merepresentasikan kelembutan filosofi Jawa, serta Tari Kaguya dari repertoar Kagura yang mengangkat mitologi klasik Jepang.
Astrid Widayani mengapresiasi kolaborasi yang mempertemukan kesakralan tradisi Jepang dan keanggunan seni Indonesia. “Seni adalah bahasa universal yang melampaui batas negara dan perbedaan. Kolaborasi ini menjadi jembatan penting yang mempererat persahabatan Indonesia dan Jepang,” katanya.
Ia berharap kerja sama tersebut dapat berlanjut menjadi kemitraan jangka panjang, termasuk melalui lokakarya dan pertukaran seniman muda. Sejalan dengan itu, pihak Kagura menegaskan bahwa mereka tidak ingin tampil sendiri di setiap negara yang dikunjungi, melainkan melibatkan unsur lokal sebagai simbol perdamaian.
Selain di Indonesia, Sousei Kagura disebut telah membawa misi perdamaian ke lebih dari 20 negara, di antaranya Jerman, Italia, Spanyol, dan Korea. Kunjungan di Solo pun menegaskan peran tradisi sebagai medium diplomasi budaya di era modern.

