Generasi Z—kelahiran 1997 hingga 2012—kerap disebut sebagai digital native karena tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital yang pesat. Dalam perspektif psikologi, situasi ini membawa dua sisi terhadap kebiasaan membaca anak: membuka peluang akses bacaan yang lebih luas, sekaligus menghadirkan tantangan baru yang dapat menggerus perhatian dan minat baca.
Dari sisi positif, internet memudahkan anak mencari bahan bacaan sesuai minatnya. Akses yang lebih cepat ke beragam buku, termasuk bacaan digital, dinilai dapat membantu meningkatkan ketertarikan membaca. Selain itu, aplikasi pembelajaran interaktif dan buku elektronik (e-book) yang dilengkapi elemen seperti suara, animasi, serta aktivitas interaktif dapat membuat proses membaca terasa lebih menarik dan menghibur. Aplikasi yang menyesuaikan materi dengan tingkat keterampilan anak juga disebut dapat membantu mengatasi kesulitan membaca dan meningkatkan kepercayaan diri.
Namun, perkembangan teknologi juga membawa dampak negatif. Perangkat gawai berpotensi menjadi sumber distraksi karena anak dapat lebih memilih bermain gim dibanding membaca. Penggunaan teknologi secara berlebihan juga dikaitkan dengan gangguan perhatian, yang dapat menurunkan kemampuan anak untuk fokus saat membaca. Di sisi lain, internet dapat membuka akses pada konten yang tidak sesuai usia; paparan berlebihan terhadap konten yang tidak pantas dikhawatirkan memengaruhi perkembangan psikologis anak.
Untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi minat baca anak, salah satu kerangka yang digunakan adalah Teori Ekologi Bronfenbrenner (Ecological Systems Theory). Teori ini melihat perkembangan anak sebagai hasil interaksi berbagai lapisan lingkungan, dari yang paling dekat hingga konteks sosial yang lebih luas.
Pada tingkat mikrosistem, lingkungan terdekat anak seperti keluarga dan sekolah dipandang berperan langsung. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang gemar membaca cenderung memiliki akses pada beragam buku, sehingga minat bacanya berpeluang lebih tinggi. Di sekolah, guru yang mendorong dan memberikan pengalaman membaca yang positif dapat ikut membentuk ketertarikan anak terhadap bacaan.
Tingkat mesosistem menyoroti hubungan antarlapisan lingkungan terdekat, misalnya kerja sama orang tua dan guru dalam mendukung kegiatan membaca anak. Dukungan yang konsisten dari rumah dan sekolah dinilai dapat memperkuat kebiasaan membaca. Selanjutnya, ekosistem merujuk pada lingkungan yang tidak berinteraksi langsung dengan anak namun tetap dapat memengaruhi, sementara makrosistem mencakup faktor budaya, sosial, dan politik yang turut membentuk iklim literasi. Adapun kronosistem menekankan perubahan dari waktu ke waktu dalam konteks perkembangan individu.
Dalam kerangka ini, upaya meningkatkan minat membaca anak dipandang memerlukan pemahaman menyeluruh tentang interaksi faktor-faktor lingkungan tersebut. Kolaborasi keluarga dan sekolah disebut sebagai kunci untuk membangun ekosistem literasi yang kuat, disertai pemantauan dan evaluasi berkelanjutan agar dampaknya bertahan dalam perjalanan literasi anak.
Di tengah peluang dan tantangan itu, sejumlah data menunjukkan persoalan literasi masih menjadi pekerjaan besar. Penelitian Pokkt bersama Decision Lab mencatat komposisi pemain gim seluler di Indonesia mencakup 49% pengguna ponsel pintar laki-laki dan 51% perempuan. Dari sisi usia, sekitar seperempat pemain berada pada rentang 16–24 tahun dan 25–34 tahun—masing-masing 27%. Kelompok usia 25–44 tahun tercatat 24%, sementara pengguna ponsel pintar usia 45–54 tahun juga aktif bermain gim seluler dengan porsi 17%. Studi yang sama juga menemukan 56% ibu yang memiliki anak di bawah 10 tahun sering bermain gim seluler.
Sementara itu, hasil Asesmen Nasional (AN) 2021 yang dapat diakses melalui platform Rapor Pendidikan (Merdeka Belajar episode 19) menunjukkan capaian literasi membaca peserta didik di Indonesia masih rendah dan belum mengalami perubahan signifikan. Temuan ini disebut sejalan dengan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) dalam pengukuran kompetensi literasi, yakni berada di bawah rata-rata negara-negara OECD. AN 2021 yang melibatkan lebih dari 6,5 juta peserta didik mencatat bahwa satu dari dua peserta didik dari jenjang SD hingga SMA belum mencapai kompetensi literasi minimum. Kondisi ini terutama terlihat pada tingkat SD dan SMP, dengan kebutuhan bantuan khusus yang disebut masih tinggi, terutama di wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal).
Rangkaian temuan tersebut menegaskan pentingnya perhatian serius terhadap perbaikan literasi sejak usia dini. Dalam perspektif psikologi, dampak teknologi terhadap minat baca anak dipahami tidak tunggal dan dapat bervariasi tergantung banyak faktor. Karena itu, keseimbangan antara penggunaan teknologi dan upaya mendorong kebiasaan membaca menjadi kunci, dengan lingkungan keluarga dan sekolah sebagai fondasi utama dalam membentuk minat baca anak.