Para menteri luar negeri Uni Eropa menggelar pertemuan di Luksemburg pada Senin, 14 April 2025, untuk membahas sejumlah isu luar negeri, mulai dari perang di Ukraina dan situasi di Gaza hingga dinamika di Balkan Barat. Pertemuan tersebut berlangsung dalam kerangka Dewan Urusan Luar Negeri.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menekankan perlunya tekanan yang lebih besar terhadap Rusia. Ia menyatakan Uni Eropa perlu memberikan “tekanan maksimal” agar perang dapat diakhiri, seraya menilai perdamaian membutuhkan kemauan dari kedua pihak.
Dari Prancis, Menteri Luar Negeri Jean Noel Barrot mengatakan Rusia dinilai tidak memiliki niat untuk menyetujui gencatan senjata. Ia meminta Uni Eropa menjatuhkan sanksi keras terhadap Rusia untuk menekan perekonomian dan menghambat kemampuan negara itu melanjutkan upaya perang. Barrot juga menyebut Amerika Serikat dapat memaksa Rusia untuk duduk di meja perundingan.
Menteri Luar Negeri Finlandia Elina Valtonen memperingatkan bahwa Rusia tampak mengabaikan proses perdamaian. Ia menyebut Uni Eropa perlu meningkatkan sanksi, yang menurutnya sedang dikerjakan dalam paket sanksi ke-17.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski mengaku terkejut atas serangan Rusia baru-baru ini di wilayah Suma, Ukraina. Ia berharap Presiden Donald Trump dan pemerintah Amerika Serikat melihat bahwa pemimpin Rusia “mengejek niat baik” mereka, serta berharap keputusan yang tepat diambil.
Selain Ukraina, para menteri juga membahas situasi di Gaza. Mereka mendesak kedua pihak kembali ke gencatan senjata dan menekankan perlunya akses tanpa hambatan bagi bantuan kemanusiaan.
Komisaris Eropa untuk kesetaraan, kesiapsiagaan, dan manajemen krisis, Hadja Lahbib, menyerukan pembaruan gencatan senjata agar bantuan dapat masuk ke Gaza. Ia mengatakan akses bantuan “diblokir sepenuhnya oleh Israel” dan menyebut makanan hampir habis, sementara gudang di luar Gaza disebut penuh dengan persediaan yang tertahan karena tidak bisa masuk.
Lahbib juga menyoroti potensi meningkatnya korban. Ia menyatakan tidak ada staf internasional UNRWA yang tersisa di Gaza dan Tepi Barat, serta memperingatkan jumlah kematian dapat meningkat jika bantuan penting tidak segera dapat masuk ke Gaza.
Pembahasan lain mencakup hubungan Uni Eropa dengan negara-negara mitra di Balkan Barat. Menurut keterangan di situs Consilium, Dewan bertukar pandangan tentang upaya meningkatkan kerja sama di bidang keamanan dan pertahanan dalam menghadapi tantangan politik, sekaligus mendorong stabilitas dan keamanan regional.
Diskusi 27 negara anggota Uni Eropa itu digelar setelah makan malam informal dengan para menteri luar negeri negara-negara Balkan Barat sehari sebelumnya. Perwakilan Tinggi menyatakan stabilitas dan keamanan kawasan tersebut penting bagi Uni Eropa. Dewan juga membahas situasi di Bosnia-Herzegovina dan Serbia, serta menegaskan kembali perlunya normalisasi hubungan antara Serbia dan Kosovo.

