BERITA TERKINI
Menlu Turkiye: Forum Diplomasi Antalya Jadi Wadah Bahas Tantangan Kawasan di Tengah Melemahnya Multilateralisme

Menlu Turkiye: Forum Diplomasi Antalya Jadi Wadah Bahas Tantangan Kawasan di Tengah Melemahnya Multilateralisme

Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan mengatakan Forum Diplomasi Antalya bertujuan menyediakan platform yang berfokus pada tantangan kawasan, di tengah melemahnya multilateralisme dan meningkatnya ketidakstabilan global yang membuat diplomasi semakin dibutuhkan.

“Diplomasi jauh lebih relevan dari sebelumnya, dan jauh lebih dibutuhkan dari sebelumnya,” ujar Fidan saat berbicara pada hari kedua Forum Diplomasi Antalya ke-5 di Antalya, Turkiye selatan, Sabtu.

Menurut Fidan, berbagai platform diplomasi global kerap memprioritaskan isu-isu yang berpusat pada Barat, sementara konflik di Timur Tengah, Afrika Utara, Balkan, dan Mediterania mendapat perhatian terbatas. Ia menilai isu-isu kawasan, terutama yang terkait erat dengan wilayah tersebut, belum dibahas secara mendalam.

Fidan menyebut Forum Diplomasi Antalya menawarkan kesempatan bagi negara-negara di kawasan untuk melakukan diskusi regional serta menghadirkan solusi dan gagasan yang relevan.

Ia juga menekankan pentingnya dialog ketika tatanan internasional melemah. Fidan memperingatkan bahwa runtuhnya aturan global dapat membuat negara-negara semakin bergantung pada koordinasi untuk menghindari konflik.

Fidan mengatakan sistem internasional pasca-Perang Dingin mulai melemah setelah 2010 dan menggambarkan situasi saat ini sebagai “jatuh bebas” yang menuntut peninjauan kembali tata kelola global. Ia berharap negara-negara dapat “belajar dari kebijaksanaan,” bukan menunggu kehancuran untuk mengambil pelajaran.

Dalam kebijakan luar negeri Turkiye, Fidan menegaskan kepemilikan regional sebagai prinsip penting. Ia menyerukan negara-negara di Timur Tengah, Kaukasus, Balkan, dan Mediterania agar menangani tantangan mereka sendiri. Menurutnya, ketika kekuatan hegemon datang untuk memperbaiki masalah, hal itu dapat menciptakan lebih banyak persoalan daripada solusi.

Fidan menilai kerja sama regional di antara negara-negara yang sudah matang dapat membantu mengurangi konflik. “Kini sebagian besar dari mereka telah menjadi matang. Jadi sudah waktunya bagi kita semua untuk bersatu dengan cara yang sangat dewasa dan mengambil tanggung jawab atas masalah kita,” katanya.

Dalam pernyataannya, Fidan juga mengkritik kebijakan ekspansionis di kawasan. Ia menyatakan tidak ada negara yang mengejar apa yang menjadi milik pihak lain, “kecuali Israel,” yang menurutnya menjalankan kebijakan ekspansionis. Fidan menambahkan bahwa penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah dapat menyelesaikan “lebih dari 80 persen masalah.”

Fidan menegaskan Turkiye mempertahankan dialog dengan semua pihak dalam konflik, dengan menekankan diplomasi dibandingkan keberpihakan. “Kami terlibat dalam diplomasi, bukan perang,” ujarnya. “Dalam perang, Anda perlu memihak. Tetapi dalam diplomasi, Anda perlu berinteraksi dengan setiap pihak.”

Ia menyebut prioritas Ankara adalah mencegah perang dan mengakhiri konflik yang sedang berlangsung agar perdagangan, stabilitas, dan pembangunan dapat berjalan. Fidan mengatakan Turkiye berupaya menangani konflik dari Ukraina dan Gaza hingga Iran dan beberapa bagian Afrika, seraya menyoroti banyaknya gangguan, pertumpahan darah, serta ketidakstabilan yang berdampak luas ke seluruh dunia.

Menurut Fidan, konflik kawasan tetap saling terkait dan tidak stabil karena rentan terhadap berbagai bentuk eskalasi, baik di tingkat regional maupun di luar kawasan.

Terkait perang Rusia-Ukraina, Fidan mengatakan pembicaraan terus berlanjut meski mengalami hambatan, dan Turkiye mendorong dialog serta gencatan senjata. Ia menyebut hal positifnya adalah kedua pihak dan para mediator masih bersedia melanjutkan, meskipun konflik tersebut terus menimbulkan gangguan besar secara global.

Fidan juga mengatakan perang yang melibatkan Iran telah mengalihkan perhatian dari negosiasi Ukraina. Ia menilai setelah gencatan senjata atau kesepakatan damai dengan Iran tercapai, perhatian perlu segera dialihkan kembali ke pembicaraan Ukraina, sambil mengingatkan risiko eskalasi dan ketidakstabilan yang lebih luas.