Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengadakan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi di Beijing pada Rabu. Pertemuan ini berlangsung sekitar sepekan sebelum kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Tiongkok, yang diperkirakan akan diisi pertemuan dengan Presiden Xi Jinping.
Dalam pernyataannya, Araghchi menyampaikan apresiasi terhadap sikap Beijing. Ia mengatakan Iran menghargai “sikap tegas” China, termasuk kecaman terhadap Amerika Serikat dan Israel. Araghchi juga menyebut China sebagai “teman dekat” Iran dan menegaskan bahwa dalam situasi saat ini kerja sama kedua negara akan semakin kuat.
Araghchi menambahkan Iran hanya akan menerima perjanjian yang “adil dan komprehensif”.
Menurut media lokal, Araghchi tiba di Beijing pada Selasa untuk melakukan konsultasi diplomatik. Selain membahas hubungan bilateral dengan Wang Yi, ia disebut akan mengulas perkembangan regional dan internasional.
Di tengah agenda diplomasi tersebut, pernyataan dan langkah terbaru dari Trump terkait Selat Hormuz turut menjadi sorotan. Pada Selasa malam, Trump mengumumkan adanya “jeda” dalam apa yang ia sebut “Proyek Kebebasan”, yang menurutnya bertujuan memandu kapal-kapal melalui Selat Hormuz.
Sehari sebelumnya, Trump memperingatkan bahwa Iran akan “lenyap dari muka bumi” jika menyerang kapal-kapal milik Amerika Serikat.
Amerika Serikat dan Iran juga menyampaikan versi yang saling bertentangan terkait insiden kapal di selat tersebut. Washington mengklaim dua kapal telah melewati Selat Hormuz, namun klaim itu dibantah keras oleh Iran. Trump juga menyatakan Amerika Serikat telah “menembak jatuh” tujuh “kapal cepat” Iran. Sementara itu, Teheran menyebut dua di antaranya merupakan kapal sipil dan menyatakan lima orang tewas.
Araghchi mengkritik “Proyek Kebebasan” Trump dan menyebutnya sebagai “Proyek Kebuntuan”. Ia mengatakan pembicaraan mengalami kemajuan berkat upaya baik Pakistan, seraya memperingatkan Amerika Serikat agar tidak “terseret kembali” oleh pihak-pihak yang ia sebut berniat buruk.