BERITA TERKINI
Menlu China dan Iran Bertelepon, Bahas Upaya Penghentian Perang dan Situasi Selat Hormuz

Menlu China dan Iran Bertelepon, Bahas Upaya Penghentian Perang dan Situasi Selat Hormuz

Menteri Luar Negeri China Wang Yi melakukan pembicaraan via telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Selasa (24/3). Dalam komunikasi tersebut, kedua pihak membahas upaya mencapai penghentian perang secara menyeluruh.

Menurut rilis tertulis di laman Kementerian Luar Negeri China, Araghchi menyampaikan bahwa Iran berkomitmen untuk mewujudkan penghentian perang secara total, bukan sekadar gencatan senjata sementara. Ia juga memaparkan perkembangan terbaru situasi di kawasan serta menyampaikan terima kasih kepada China atas bantuan kemanusiaan darurat yang diberikan.

Dalam pernyataan yang sama, Araghchi mengatakan rakyat Iran semakin bersatu menghadapi tindakan agresi dari luar, sekaligus menjaga kedaulatan dan kemerdekaan negara. Ia juga menegaskan Selat Hormuz terbuka bagi semua pihak dan kapal-kapal dapat melintas dengan aman, namun ketentuan itu tidak berlaku bagi negara-negara yang sedang terlibat dalam konflik.

Araghchi berharap langkah-langkah yang diambil semua pihak dapat meredakan situasi dan tidak memperburuk konflik. Ia juga menyatakan harapan agar China terus memainkan peran aktif dalam mendorong perdamaian dan menghentikan perang.

Sementara itu, Wang Yi menegaskan kembali posisi prinsip China bahwa seluruh ketegangan seharusnya diselesaikan melalui dialog dan negosiasi, bukan penggunaan kekuatan militer. Ia menyatakan bahwa berunding lebih baik daripada terus berperang, serta menilai hal tersebut sejalan dengan kepentingan Iran dan harapan umum masyarakat internasional.

Wang Yi juga berharap semua pihak memanfaatkan setiap peluang dan momentum untuk perdamaian serta segera memulai proses perundingan. Ia menambahkan China akan tetap berpegang pada posisi yang objektif dan adil, menentang pelanggaran terhadap kedaulatan negara lain, aktif mendorong perdamaian dan penghentian konflik, serta berkomitmen menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan.

Pembicaraan kedua menlu itu berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan regional. Sehari sebelumnya, Senin (23/3), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan telah memerintahkan penundaan selama lima hari untuk semua serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran. Trump menyebut keputusan itu diambil setelah pihaknya melakukan pembicaraan yang ia klaim “sangat baik dan produktif” dengan Teheran selama dua hari terakhir terkait penyelesaian permusuhan di Timur Tengah, sebagaimana ia tulis di platform Truth Social.

Trump menambahkan penundaan tersebut bergantung pada keberhasilan pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung. Namun, Teheran secara tegas menolak klaim Trump mengenai adanya pembicaraan tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menyebut sejumlah negara bersahabat baru-baru ini mengirim pesan kepada Iran yang menunjukkan keinginan AS memulai pembicaraan untuk mengakhiri perang, tetapi Iran belum memberikan tanggapan.

Dewan Pertahanan Nasional Iran juga menyatakan bahwa setiap upaya oleh “musuh” untuk menargetkan pantai atau pulau-pulau Iran akan menyebabkan pemasangan ranjau di jalur akses dan jalur komunikasi di seluruh Teluk Persia.

Ketegangan regional meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, dengan korban jiwa yang dilaporkan melebihi 1.300 orang. Aksi balasan Iran berdampak pada pasar global dan penerbangan, sementara Selat Hormuz disebut telah terganggu secara efektif sejak awal Maret.

Sekitar 20 juta barel minyak biasanya melewati jalur tersebut setiap hari. Gangguan yang terjadi telah meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi. Iran juga disebut mengambil langkah untuk memastikan kapal transit yang tidak berafiliasi dengan AS atau Israel tetap dapat melintasi selat itu, dengan ketentuan semua kapal—kecuali kapal yang disebut “musuh”—dapat melintas asalkan berkoordinasi dengan Iran.