BERITA TERKINI
Menkeu Purbaya: Harga Minyak di Atas 100 Dolar AS Tidak Selalu Tekan Ekonomi Indonesia

Menkeu Purbaya: Harga Minyak di Atas 100 Dolar AS Tidak Selalu Tekan Ekonomi Indonesia

JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan lonjakan harga minyak dunia hingga di atas 100 dolar AS per barel tidak selalu berdampak negatif terhadap perekonomian Indonesia. Menurut dia, Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam mengelola dampak kenaikan harga energi global melalui kombinasi kebijakan fiskal dan moneter.

“Jika kita melihat pengalaman Indonesia ketika harga minyak dunia melonjak di atas 100 dolar AS per barel, sering muncul kekhawatiran bahwa ekonomi Indonesia akan mengalami tekanan besar. Namun pengalaman kita selama ini menunjukkan hal yang berbeda,” kata Purbaya dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Purbaya mencontohkan periode 2007–2008 saat harga minyak melonjak tinggi dan ekonomi global dilanda krisis. Ia menyebut Indonesia tetap mampu mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 4,6 persen karena kebijakan fiskal dan moneter yang dinilai tepat.

Pengalaman serupa, lanjut Purbaya, juga terjadi pada 2011 ketika harga minyak dunia berada di kisaran 110–120 dolar AS per barel. Pada periode tersebut, perekonomian Indonesia tetap tumbuh dengan baik.

Ia menambahkan, pola yang sama terlihat pada masa pemulihan ekonomi setelah pandemi Covid-19. Ketika harga energi global kembali meningkat, perekonomian nasional disebut tetap pulih secara bertahap.

“Artinya, jika kita memiliki kebijakan yang tepat—baik dari sisi fiskal maupun moneter—Indonesia memiliki pengalaman dan kemampuan untuk mengelola dampak kenaikan harga minyak global terhadap perekonomian,” ujarnya.

Purbaya menyatakan pemerintah akan terus menyesuaikan kebijakan ekonomi mengikuti dinamika harga minyak dunia agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga. Ia juga menilai sejumlah analisis yang menyebut lonjakan harga minyak akan menghantam ekonomi Indonesia secara serius tidak sepenuhnya didukung data.

“Dengan pengalaman yang kita miliki selama ini, saya kira kita tidak perlu terlalu khawatir. Berbagai analisis yang mengatakan ekonomi Indonesia akan hancur sebenarnya tidak didukung oleh data yang kuat,” kata Purbaya.