Forum kerja sama ekonomi Asia Pasifik kembali menjadi perhatian setelah Presiden Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC di Gyeongju, Korea Selatan, pada 31 Oktober hingga 1 November 2025.
APEC atau Asia Pacific Economic Cooperation merupakan forum yang mempertemukan negara-negara di kawasan Samudra Pasifik untuk membahas berbagai isu ekonomi, mulai dari perdagangan dan pertumbuhan ekonomi hingga stabilitas kawasan. Selama lebih dari tiga dekade, APEC menjadi salah satu wadah penting bagi pembukaan peluang kerja sama lintas negara, termasuk bagi Indonesia.
Secara umum, APEC adalah forum kerja sama internasional yang beranggotakan negara-negara di sekitar Samudra Pasifik. Fokus utamanya berada pada kolaborasi di bidang ekonomi, perdagangan, dan bisnis, dengan tujuan memperkuat pertumbuhan serta hubungan antarnegara di kawasan Asia Pasifik.
Sejak dibentuk, APEC diarahkan untuk mempercepat kemajuan ekonomi kawasan sekaligus memperkuat integrasi regional. Forum ini mendorong penurunan hambatan perdagangan dan investasi agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara lebih adil dan terbuka oleh negara-negara anggotanya. Dalam kerangka tersebut, APEC juga diproyeksikan berkontribusi sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi dunia.
Gagasan pembentukan APEC muncul pada 1989 dalam pertemuan multilateral para pemimpin di Canberra, Australia. Perdana Menteri Australia saat itu, Bob Hawke, mengusulkan perlunya forum ekonomi yang dapat menyatukan negara-negara Asia Pasifik. Sepuluh bulan kemudian, 12 negara kembali bertemu di Canberra dan menyepakati pendirian APEC. Negara pendiri tersebut adalah Australia, Indonesia, Jepang, Korea, Kanada, Amerika Serikat, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Selandia Baru, dan Brunei Darussalam.
Keanggotaan APEC kemudian bertambah seiring menguatnya peran Asia Pasifik dalam ekonomi global. Pada 1991, China, Hong Kong, dan Chinese Taipei bergabung. Pada 1993, Meksiko dan Papua Nugini turut masuk, disusul Chili pada 1994. Gelombang berikutnya terjadi pada 1998 ketika Peru, Rusia, dan Vietnam bergabung. Hingga kini, APEC memiliki total 21 anggota.
Dalam perkembangannya, APEC juga mengalami perubahan peran dalam diplomasi ekonomi. Pada periode 1989–1992, forum ini terutama menjadi ruang dialog di tingkat pejabat senior dan menteri. Pada 1993, Presiden Amerika Serikat Bill Clinton menetapkan pertemuan tahunan Pemimpin Ekonomi APEC, yang memperkuat arah strategis serta kerja sama tingkat tinggi antarnegara anggota.
Kelahiran APEC tidak terlepas dari dinamika global pada akhir 1980-an. Sejumlah faktor yang disebut mendorong pembentukannya antara lain kekhawatiran akan kegagalan Putaran Uruguay dalam negosiasi perdagangan internasional, serta perubahan besar dalam lanskap politik dan ekonomi Uni Soviet dan Eropa Timur. Situasi tersebut mendorong negara-negara Asia Pasifik memperkuat kerja sama ekonomi demi menjaga stabilitas kawasan.
Dalam pertemuan di Blake Island, Seattle, Amerika Serikat, para pemimpin APEC menyepakati visi bahwa forum ini akan ikut menggerakkan perekonomian dunia. Sejak itu, APEC terus menjadi ruang strategis untuk membahas isu ekonomi global, termasuk topik seperti perdagangan digital dan ketahanan pangan.

