Menteri Kebudayaan Fadli Zon menerima kunjungan Werner Weiglein, pemerhati dan pencinta budaya Indonesia asal Jerman, dalam pertemuan di kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta. Pertemuan tersebut disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat jejaring diplomasi budaya Indonesia di tingkat global.
Dalam keterangan pers yang diterima Rabu, Fadli menyampaikan apresiasi atas dedikasi Weiglein yang selama puluhan tahun aktif mempromosikan kekayaan budaya Nusantara di Eropa. Fadli menilai Weiglein tidak hanya mengoleksi artefak, tetapi juga menyusunnya menjadi dokumentasi yang disertai narasi. “Beliau mendata koleksi ini sekaligus menuliskannya menjadi narasi yang cukup lengkap,” kata Fadli.
Werner Weiglein dikenal sebagai pendiri sekaligus pengelola Museum Papua yang berlokasi di Gelnhausen, Jerman. Museum tersebut menyimpan koleksi etnografi Papua yang dinilai memiliki nilai penting dalam memperkenalkan warisan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.
Weiglein mulai mengoleksi berbagai benda budaya sejak 1970-an. Pada dekade 1980-an, ia melakukan sejumlah perjalanan dan ekspedisi ke berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Sulawesi dan Papua. Pengalaman itu kemudian dituangkan dalam karya tulis yang mendokumentasikan perjalanan serta kekayaan budaya yang ditemuinya.
Selain kiprah di bidang kebudayaan, Weiglein juga dikenal sebagai pemegang rekor pendakian ke Puncak Carstensz di Pegunungan Jayawijaya sebanyak 36 kali. Dedikasi tersebut disebut mencerminkan kedekatannya dengan Papua, tidak hanya dari sisi budaya, tetapi juga lanskap alam.
Melalui pertemuan ini, Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat jejaring diplomasi budaya dengan berbagai mitra internasional. Upaya pelestarian, dokumentasi, dan promosi budaya Indonesia di luar negeri dinilai menjadi bagian penting dari strategi pemajuan kebudayaan sebagai soft power bangsa di tingkat global.
Fadli juga mengapresiasi buku karya Weiglein berjudul Expeditionen durch Indonesien yang ditulis bersama Herwig Zahorka. Buku tersebut menyuguhkan kekayaan budaya serta keragaman sosial Indonesia melalui perpaduan dokumentasi dan narasi. Weiglein mengatakan seluruh foto dalam buku itu merupakan hasil dokumentasinya sendiri. “Kita bisa melakukan lebih dari ini dan semua foto dalam buku ini adalah foto sendiri,” ujarnya.

