BERITA TERKINI
Membedah Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel "Hujan" Karya Tere Liye

Membedah Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel "Hujan" Karya Tere Liye

Novelis Tere Liye dikenal luas lewat karya-karya fiksi yang kerap diminati pembaca. Penulis bernama asli Darwin ini disebut mulai menulis sejak sekolah dasar. Pada fase awal, tulisannya beberapa kali ditolak media massa, hingga akhirnya saat duduk di SMA kelas 2 karyanya untuk pertama kali dimuat. Sejak itu, puluhan karya lahir dari tangannya, termasuk novel Hujan yang terbit pada 2016.

Hujan disebut sebagai karya ke-22 Tere Liye dan menjadi salah satu novel yang banyak diminati. Cerita berfokus pada Lail dan Esok yang bertemu saat terjadi bencana alam. Lail yang kehilangan keluarganya kemudian menjadi dekat dengan Esok dan mulai menyukainya. Kisah keduanya berlanjut hingga dewasa, ketika Lail berusaha melupakan Esok akibat kesalahpahaman rumit dengan menjalani operasi saraf otak di Pusat Terapi Saraf. Dalam proses itu, Lail bertemu Elijah, petugas medis yang mendampinginya melewati tahapan terapi modifikasi saraf otak.

Dalam pembacaan karya sastra, unsur intrinsik dan ekstrinsik kerap digunakan untuk memahami cerita secara lebih mendalam. Unsur intrinsik dipahami sebagai unsur pembangun dari dalam karya, sementara unsur ekstrinsik merujuk pada faktor di luar cerita yang turut memengaruhi lahirnya karya, namun tidak menjadi bagian langsung dari teks fiksi.

Unsur intrinsik yang diidentifikasi dalam novel Hujan meliputi tema, tokoh, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat. Dari sisi tema, novel ini memuat gagasan tentang persahabatan, percintaan, dan perpisahan. Tokoh utama adalah Lail dan Esok, dengan tokoh pendukung antara lain Maryam (sahabat Lail), orang tua Lail, orang tua Esok, Claudia (adik angkat Esok), wali kota dan istrinya (orang tua angkat Esok), serta Elijah (petugas medis yang membantu Lail menghilangkan sosok Esok dari ingatannya).

Alur cerita disebut menggunakan alur campuran, yakni perpaduan alur maju dan mundur, sehingga pembaca dituntut mencermati rangkaian peristiwa secara saksama. Latar tempat mencakup sejumlah lokasi seperti kapsul kereta bawah tanah, tangga darurat, tenda pengungsian di stadion bola, rumah sakit darurat, panti sosial, toko kue, taman, dan ruangan putih 44. Latar waktu diceritakan berada pada rentang sekitar 2042 hingga 2050, dengan pembagian momen pagi, siang, sore, dan malam. Adapun latar suasana yang muncul antara lain sedih, panik, cemas, menyenangkan, dan meriah.

Dari sudut pandang, novel ini ditulis menggunakan orang ketiga, ditandai dengan penggunaan nama tokoh serta kata ganti seperti “dia”, “ia”, dan “mereka”. Untuk gaya bahasa, disebutkan adanya penggunaan majas perbandingan, pertentangan, sindiran, serta pertentangan. Sementara itu, amanat yang ditangkap antara lain pesan bahwa meski waktu berlalu dan perubahan terjadi, kenangan dapat tetap abadi, sekaligus penekanan pada makna cinta, pengorbanan, dan keberanian melanjutkan hidup setelah kehilangan.

Unsur ekstrinsik yang disorot adalah latar belakang pengarang. Tere Liye disebut sebagai nama pena dari Darwis, penulis Indonesia yang menulis banyak novel dan dikenal di kalangan pembaca. Ia lahir pada 1979, berasal dari keluarga sederhana, berlatar pendidikan ekonomi, dan dikenal dengan gaya penulisan yang menyentuh serta kerap mengangkat tema sosial, kehidupan, dan nilai-nilai moral.

Melalui pemetaan unsur intrinsik dan ekstrinsik tersebut, pembaca dapat menelusuri bagaimana bangunan cerita bekerja sekaligus melihat faktor di luar teks yang ikut memberi konteks pada lahirnya sebuah karya.