Santhi Pratiwi, M.Pd, dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mohammad Husni Thamrin Jakarta, menilai sekolah merupakan inti dari ekonomi nasional. Namun, dalam diskusi mengenai pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur, kualitas pendidikan serta pengelolaan sistem pendidikan sejak awal kerap luput dari perhatian.
Menurutnya, pembangunan jalan tol, perluasan pelabuhan, dan derasnya arus investasi tidak akan cukup jika tidak diiringi kesiapan generasi muda yang kreatif dan terampil. Tanpa sumber daya manusia yang mumpuni, berbagai capaian pembangunan berisiko hanya menjadi angka dalam laporan tahunan.
Santhi menekankan bahwa pendidikan yang dikelola dengan baik tidak berhenti pada pengajaran membaca, menulis, dan berhitung. Manajemen pendidikan yang efisien mencakup perencanaan strategis, kepemimpinan yang visioner, pengembangan profesional guru, serta pengelolaan anggaran yang transparan. Seluruh komponen tersebut saling terkait dan berpengaruh terhadap kualitas lulusan yang kelak menjadi penggerak ekonomi.
Ia merujuk pengalaman sejumlah negara yang dinilai berhasil membangun ekonomi kuat dengan menjadikan pendidikan sebagai prioritas, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura. Dalam pandangannya, investasi pendidikan bukan sekadar beban sosial, melainkan investasi ekonomi jangka panjang karena mampu membentuk tenaga kerja terampil, inovatif, dan memberi nilai tambah bagi berbagai sektor industri.
Indonesia, lanjut Santhi, memiliki peluang besar untuk meningkatkan daya saing ekonomi, ditopang populasi lebih dari 275 juta jiwa dan bonus demografi hingga 2035. Namun, potensi itu dinilainya hanya dapat diwujudkan melalui sistem pendidikan yang berkualitas, fleksibel, dan selaras dengan kebutuhan zaman.
Santhi juga menggarisbawahi sejumlah tantangan struktural dalam manajemen pendidikan saat ini. Di antaranya proses birokrasi yang panjang dan kurang fleksibel, fokus yang masih dominan pada rutinitas administrasi ketimbang peningkatan kualitas pembelajaran, pelatihan guru yang kerap terkesan formalitas sehingga inovasi terbatas, serta pengelolaan anggaran yang dinilai belum optimal meski alokasi pendidikan dalam APBN cukup signifikan.
Tanpa reformasi menyeluruh, ia menilai sekolah dan perguruan tinggi akan kesulitan menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan pasar kerja dan persaingan global.
Dalam konteks peningkatan mutu pendidikan, Santhi menempatkan guru dan dosen sebagai tokoh kunci. Pengembangan profesional pengajar dinilai penting karena kualitas pengajar berpengaruh langsung pada kualitas generasi berikutnya. Ia menyebut terdapat konsensus akademis—berdasarkan penelitian dan pandangan pakar pendidikan serta ekonomi internasional—bahwa pendidikan yang dikelola dengan baik akan melahirkan lulusan yang adaptif, inovatif, dan memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri.
Ia memaparkan bahwa sistem pendidikan yang berfokus pada pengembangan keterampilan relevan dengan industri dapat meningkatkan kesiapan kerja dan mendorong kontribusi tenaga kerja yang lebih produktif bagi pembangunan ekonomi. Sebaliknya, kualitas pendidikan yang rendah atau tidak sesuai kebutuhan bisnis dapat menyulitkan lulusan masuk pasar kerja dan berdampak pada produktivitas ekonomi secara keseluruhan. Selain itu, investasi pada pengembangan kompetensi guru dan efektivitas manajemen pendidikan dinilai memberi dampak langsung terhadap produktivitas ekonomi jangka panjang.
Santhi juga menyoroti perlunya keterhubungan pendidikan dengan dunia ekonomi. Sekolah kejuruan, universitas, dan lembaga pelatihan disebut dapat menjadi pelopor inovasi untuk mendukung perkembangan industri, terutama melalui kerja sama dengan dunia usaha agar keterampilan yang diajarkan sesuai kebutuhan, sekaligus menumbuhkan semangat kewirausahaan sejak dini.
Ia menilai perubahan ekonomi global yang cepat, revolusi digital, dan otomatisasi industri menuntut sistem pendidikan yang lebih fleksibel. Karena itu, manajemen pendidikan yang efektif perlu mampu beradaptasi, memanfaatkan teknologi, serta membangun budaya inovasi di berbagai lembaga pendidikan.
Selain menyiapkan tenaga kerja, Santhi menekankan peran pendidikan dalam membangun karakter ekonomi bangsa. Nilai integritas, tanggung jawab sosial, dan kebersamaan dinilainya sejalan dengan prinsip Ekonomi Pancasila yang menekankan pembangunan ekonomi bukan hanya untuk pertumbuhan, tetapi juga keadilan sosial dan kesejahteraan bersama.
Ia menutup pandangannya dengan menegaskan bahwa reformasi manajemen pendidikan merupakan strategi nasional untuk membangun ekonomi yang kuat, adil, dan berkelanjutan. Masa depan ekonomi Indonesia, menurutnya, tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam atau besar kecilnya investasi, melainkan juga kualitas manusia yang mampu mengelola potensi tersebut melalui sistem pendidikan yang efektif dan dikelola dengan baik sejak tingkat awal.

