Aktivitas manufaktur di sejumlah negara Asia menunjukkan perlambatan seiring meningkatnya dampak ketidakstabilan di Timur Tengah terhadap rantai pasokan, biaya produksi, dan sentimen pelaku usaha. Sejumlah indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur turun pada Maret, meski sebagian masih bertahan di zona ekspansi di atas ambang 50.
Di Tiongkok, sektor manufaktur mencatat pertumbuhan untuk bulan keempat berturut-turut, namun lajunya melemah. Indeks PMI yang dirilis S&P Global dan RatingDog turun menjadi 50,8 pada Maret dari 52,1 pada bulan sebelumnya, serta berada di bawah perkiraan 51,6. Angka 50 menjadi batas pemisah antara ekspansi dan kontraksi.
Pelemahan juga terlihat di sejumlah negara lain, termasuk Indonesia, Taiwan, Filipina, dan Vietnam, yang mengindikasikan meluasnya dampak gangguan di Timur Tengah terhadap aktivitas manufaktur di kawasan.
Di Vietnam, Kamar Dagang dan Industri Vietnam (VCCI) pada 1 April, mengutip laporan S&P Global, menyatakan PMI manufaktur tetap berada di atas 50 pada Maret 2026. Namun, indeks turun menjadi 51,2 dari 54,3 pada Februari, yang menunjukkan peningkatan kondisi manufaktur paling kecil sejak September tahun lalu.
Laporan tersebut menyoroti tiga perkembangan utama. Pertama, lonjakan biaya input mendorong harga output naik dengan laju tercepat sejak April 2011. Kedua, laju kenaikan produksi dan pesanan baru melambat secara signifikan. Ketiga, waktu pengiriman memanjang hingga mencapai tingkat terlama dalam empat tahun terakhir.
Menurut S&P Global, konflik di Timur Tengah memberikan dampak kuat pada manufaktur Vietnam, terutama melalui kenaikan biaya input yang kemudian mendorong harga jual meningkat dengan laju tercepat sejak April 2011.
Di Jepang, pabrik-pabrik menghadapi tekanan biaya dan sentimen bisnis yang lesu. PMI manufaktur turun dari 53,0 menjadi 51,6. Pada saat yang sama, harga input meningkat dengan laju tercepat sejak Agustus 2024, dipicu oleh lonjakan harga energi, melemahnya yen, dan kekurangan tenaga kerja.
Annabel Fiddes, Wakil Direktur Ekonomi di S&P Global Market Intelligence, menilai konflik tersebut meningkatkan ketidakstabilan ekonomi global dan membuat dunia usaha lebih berhati-hati dalam merekrut serta melakukan pembelian.
Survei juga menunjukkan PMI Indonesia turun tajam menjadi 50,1 dari 53,8. Sementara itu, Korea Selatan menjadi salah satu titik terang, dengan sektor manufakturnya mencatat pertumbuhan terkuat dalam lebih dari empat tahun, didukung permintaan chip semikonduktor dan peluncuran produk baru.
Di tingkat global, pasar mengalami volatilitas signifikan setelah konflik tersebut hampir memblokir Selat Hormuz, yang mendorong kenaikan harga minyak dan menambah tekanan inflasi. Bersamaan dengan itu, meningkatnya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman turut menekan banyak mata uang Asia.
Perkembangan tersebut menambah tekanan bagi bank sentral di kawasan, yang harus menyeimbangkan upaya menjaga stabilitas nilai tukar dan mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah meningkatnya risiko eksternal.

