BERITA TERKINI
Lulusan Hubungan Internasional: Pengetahuan Global, Tantangan Kerja yang Kerap Lokal

Lulusan Hubungan Internasional: Pengetahuan Global, Tantangan Kerja yang Kerap Lokal

Pengalaman kuliah Hubungan Internasional (HI) kerap identik dengan isu-isu global, mulai dari Perang Dingin, organisasi multilateral, hingga simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Model United Nations (MUN). Dalam kegiatan seperti itu, mahasiswa berlatih berdebat, bernegosiasi, dan memosisikan diri sebagai perwakilan negara dalam membahas konflik internasional. Sebagian bahkan mengikuti MUN di luar negeri dan membawa pulang pengalaman yang dianggap prestisius.

Namun, setelah lulus, banyak alumni HI menghadapi kenyataan bahwa pengalaman akademik dan kegiatan seperti MUN tidak selalu menjadi faktor yang dicari dalam rekrutmen kerja. Dunia kerja, sebagaimana digambarkan dalam tulisan ini, cenderung menilai kemampuan yang lebih teknis dan langsung terpakai, seperti menyusun laporan, berkomunikasi lewat email secara rapi, atau mengolah data menggunakan spreadsheet.

Di titik ini, muncul kesadaran bahwa gelar HI tidak otomatis membuka jalan menuju karier berorientasi internasional. Sejumlah lulusan mengaku kerap berhadapan dengan pertanyaan dasar tentang apa yang dipelajari di jurusan tersebut, bahkan diikuti pertanyaan lain yang lebih praktis terkait kemampuan teknis.

Sementara itu, peluang kerja yang secara langsung terkait dengan diplomasi juga dinilai terbatas. Seleksi untuk menjadi diplomat melalui jalur CPNS Kementerian Luar Negeri disebut memiliki proses panjang, persaingan ketat, dan kuota yang tidak besar. Bahkan pendidikan lanjutan, termasuk pengalaman studi di luar negeri, tidak selalu menjamin kelulusan seleksi. Selain itu, dunia diplomasi digambarkan tidak selalu sesuai bayangan sebagian mahasiswa HI pada awal kuliah yang menganggapnya glamor, penuh aktivitas intelektual, dan identik dengan perjalanan ke luar negeri.

Pilihan lain yang kerap dianggap lebih realistis adalah jalur akademik, seperti menjadi dosen. Namun, jalur ini juga memerlukan persyaratan tambahan, seperti pendidikan minimal S2 dan publikasi. Dalam situasi tertentu, ada lulusan yang melanjutkan studi bukan semata karena dorongan akademik, melainkan karena belum menemukan arah pekerjaan yang jelas.

Sejumlah lulusan lainnya memilih beralih ke bidang yang masih bisa dikaitkan dengan kompetensi HI, seperti bekerja di lembaga swadaya masyarakat, menjadi analis media, mengelola riset, atau bergabung dengan organisasi internasional skala kecil. Dalam prosesnya, mereka berupaya menerjemahkan istilah-istilah akademik agar terdengar relevan dengan kebutuhan pekerjaan. Istilah seperti “analisis kebijakan luar negeri” dapat diposisikan sebagai kemampuan memantau opini publik, sementara “global governance” dapat dikaitkan dengan kerja-kerja membangun relasi pemangku kepentingan.

Di luar itu, ada pula lulusan yang mengambil jalur lebih fleksibel dengan mempelajari keterampilan baru, seperti desain, pemasaran, UI/UX, atau penulisan konten. Dalam skenario ini, gelar HI dipandang sebagai nilai tambah, bukan modal utama.

Situasi tersebut memunculkan pertanyaan yang sering terdengar di kalangan lulusan: apakah mereka salah jurusan. Tulisan ini menilai jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Ilmu HI disebut tetap memberi bekal penting, seperti kemampuan berpikir sistematis, memahami konteks isu global, dan tidak mudah terpengaruh informasi keliru terkait peristiwa internasional. Namun, di dunia kerja, bekal itu dianggap perlu diterjemahkan menjadi kemampuan yang lebih aplikatif.

Penulis menggambarkan adanya jarak antara pembentukan mahasiswa sebagai pemikir dan tuntutan dunia kerja yang membutuhkan pelaksana. Pengetahuan tentang isu besar, seperti kemiskinan global atau negosiasi multilateral, pada akhirnya tetap harus bersaing dengan kebutuhan keterampilan teknis yang sering menjadi standar di banyak pekerjaan.

Meski begitu, tulisan ini juga menekankan bahwa banyak lulusan HI yang berhasil. Mereka yang dinilai mampu memadukan kemampuan analitis dengan keterampilan teknis, komunikasi yang baik, serta kecakapan bekerja dengan data, dianggap memiliki peluang lebih besar. Kemampuan memahami kompleksitas, membaca konteks, dan menyampaikan gagasan disebut sebagai modal yang bernilai.

Di bagian akhir, penulis menyampaikan pesan kepada mahasiswa HI agar tetap serius belajar teori, tetapi juga menyiapkan keterampilan lain. Realitas kerja, menurut tulisan ini, tidak selalu menyediakan ruang selebar isu global yang dipelajari di kampus. Pekerjaan yang paling mungkin justru bisa sangat lokal, mulai dari mengelola kegiatan hingga menyusun laporan keuangan. Bahkan, ketika harus terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan, hal itu dipandang sebagai bentuk keterampilan berjejaring dan bernegosiasi di tingkat paling dasar.