BERITA TERKINI
Lima Peluang Usaha yang Dinilai Tahan Krisis di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Lima Peluang Usaha yang Dinilai Tahan Krisis di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Jakarta — Ketidakpastian global yang dipicu konflik geopolitik, inflasi, perubahan iklim, hingga gangguan rantai pasok terus menekan perekonomian banyak negara, termasuk Indonesia. Dampaknya terasa pada kenaikan harga bahan pokok, melemahnya daya beli, serta bayang-bayang resesi global yang belum sepenuhnya mereda.

Di tengah situasi tersebut, Certified Financial Planner sekaligus Director & Co-Founder Oneshildt Financial Planning, Budi Raharjo, menilai masih ada jenis usaha yang relatif lebih tangguh saat krisis. Menurutnya, bisnis yang menjual kebutuhan pokok cenderung memiliki daya tahan lebih kuat karena permintaannya bersifat primer.

“(Jenis usaha) yang paling bisa bertahan yang hampir risk free bisnis adalah jualan bahan pokok, kebutuhan pokok primer,” ujar Budi dalam kelas finansial Media bertajuk Cara Jenius Menghadapi Situasi Ekonomi Saat ini, Jumat, 18 Juli 2025.

Budi juga menyarankan pelaku usaha untuk tidak hanya mengandalkan satu sumber pendapatan. Ia menilai, selain menjalankan usaha kebutuhan pokok, pelaku usaha dapat mempertimbangkan bisnis lain yang berpotensi memberi margin lebih besar, meski persaingannya lebih sensitif.

“Misalnya dia punya toko kelontong satu, habis itu dia punya juga bisnis lain yang keuntungannya lebih besar, seperti restoran,” lanjutnya.

Selain menambah lini usaha, Budi menekankan pentingnya diversifikasi agar risiko dapat dikelola lebih baik. Salah satu contoh yang disebutkan adalah menjalankan bisnis makanan dengan sistem pre-order (PO). Ia mengingatkan, dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu, pelaku usaha perlu memprioritaskan pengelolaan risiko, bukan semata mengejar potensi keuntungan.

“Jadi yang paling penting bukan potensi keuntungannya saja. Tapi bagaimana cara kita mengelola resikonya. Yang bisa kita lakukan adalah mencegah,” kata Budi.

Berikut lima jenis usaha yang disebut tetap berpeluang bertahan di tengah krisis ekonomi global:

1. Usaha kebutuhan pokok (sembako dan bahan makanan dasar)
Krisis global dapat mendorong kenaikan harga pangan, namun kebutuhan dasar seperti beras, telur, minyak, gula, dan mi instan tetap dicari. Warung sembako atau toko kelontong masih menjadi penopang kebutuhan harian masyarakat, terutama saat daya beli melemah.

2. Usaha makanan siap saji berharga terjangkau
Saat kondisi ekonomi menekan, sebagian masyarakat cenderung memilih makanan yang murah dan mengenyangkan. Usaha seperti nasi bungkus, lauk rumahan, frozen food, hingga street food dinilai tetap stabil karena berkaitan langsung dengan kebutuhan sehari-hari.

3. Usaha jasa perbaikan dan servis
Ketika harga barang baru meningkat, masyarakat kerap memilih memperbaiki barang yang sudah dimiliki daripada membeli pengganti. Kondisi ini membuat jasa servis elektronik, kendaraan, maupun peralatan rumah tangga tetap relevan.

4. Usaha barang bekas dan thrift
Lonjakan harga mendorong sebagian konsumen mencari alternatif yang lebih terjangkau. Toko thrift, barang preloved, serta jual beli barang bekas seperti gawai atau pakaian menjadi pilihan yang semakin diminati.

5. Usaha digital dan freelance
Ketidakpastian ekonomi membuat sebagian perusahaan melakukan efisiensi dan beralih ke model kerja digital. Situasi ini membuka peluang bagi pekerja lepas dan pelaku usaha digital, seperti desainer, penulis konten, editor video, pembuat situs web, hingga konsultan media sosial.