BERITA TERKINI
Libur May Day, Bursa Australia Menguat dan Jepang Bervariasi Usai Wall Street Cetak Rekor

Libur May Day, Bursa Australia Menguat dan Jepang Bervariasi Usai Wall Street Cetak Rekor

Jakarta - Bursa saham di Australia dan Jepang bergerak bervariasi pada Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan libur Hari Buruh (May Day). Pergerakan ini terjadi setelah bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street menguat dan mendorong indeks S&P 500 serta Nasdaq Composite mencetak rekor penutupan baru.

Sejumlah pasar utama di Asia tutup karena libur Hari Buruh. Di Jepang, indeks Nikkei 225 sempat menguat tipis pada awal perdagangan, namun indeks Topix tercatat turun 0,62%.

Sementara itu di Australia, indeks S&P/ASX 200 naik 0,98%. Penguatan ini menempatkan indeks tersebut di jalur untuk mengakhiri tren penurunan selama delapan hari berturut-turut.

Di Wall Street, indeks S&P 500 naik 1,02% dan ditutup pada rekor tertinggi 7.209,01, sekaligus menjadi penutupan pertamanya di atas level 7.200. Nasdaq yang didominasi saham teknologi menguat 0,89% dan juga mencatat rekor intraday serta rekor penutupan baru. Indeks Dow Jones Industrial Average turut menguat 1,62%.

Penguatan di AS terjadi setelah investor merespons laporan kinerja perusahaan yang dinilai kuat dari Apple dan Caterpillar. Di sisi lain, pasar juga mencermati data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan serta perkembangan geopolitik terkait ancaman eskalasi di Iran oleh Presiden AS Donald Trump.

Dari komoditas, harga minyak mentah Brent sempat naik hingga melampaui USD 126 per barel setelah laporan yang menyebut militer AS akan memberi pengarahan kepada Trump mengenai potensi tindakan terhadap Iran. Namun, Brent ditutup di USD 110,40 per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik 0,61% menjadi USD 105,71.

Di bidang data ekonomi, Departemen Perdagangan AS melaporkan produk domestik bruto (PDB) meningkat 2% secara tahunan pada kuartal pertama. Angka ini lebih tinggi dibanding 0,5% pada kuartal keempat 2025, tetapi masih di bawah perkiraan konsensus ekonom Wall Street sebesar 2,2%.