Lenovo mengeluarkan peringatan terkait potensi krisis pasokan Random Access Memory (RAM) yang dinilai dapat memicu kenaikan harga dan kelangkaan berbagai perangkat elektronik di pasar global. Perusahaan menyarankan konsumen dan mitra bisnis mempertimbangkan pembelian lebih awal sebelum situasi memburuk.
Peringatan ini muncul di tengah indikasi bahwa pasokan memori untuk perangkat komputasi konsumen semakin terbatas. Sejumlah perusahaan PC besar, termasuk Lenovo, HP, dan Dell, dilaporkan telah memberi tahu pelanggan tentang kemungkinan kenaikan harga produk. Beberapa produsen juga disebut mengambil langkah antisipasi, seperti menimbun stok RAM, untuk menahan dampak kenaikan harga bagi konsumen.
Menurut pantauan Mureks, salah satu penyebab utama kondisi ini adalah pergeseran prioritas produsen memori yang lebih memfokuskan pasokan ke pusat data kecerdasan buatan (AI). Akibatnya, alokasi memori untuk perangkat konsumen menjadi lebih ketat. Produsen memori Micron disebut memperkirakan kekurangan ini dapat berlangsung hingga 2028 atau bahkan lebih lama.
Dampak kelangkaan memori disebut mulai terasa di industri. Nvidia, misalnya, dilaporkan menunda perilisan GPU gaming untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade karena terbatasnya ketersediaan memori.
Presiden Lenovo Amerika Utara Ryan McCurdy, dalam wawancara dengan CRN, menilai harga produk saat ini merupakan yang “paling menarik” untuk periode enam hingga 12 bulan ke depan. Ia mengatakan, bila infrastruktur dibutuhkan dalam tiga, enam, hingga 12 bulan mendatang dan sensitivitas harga tinggi, maka keputusan pembelian perlu dipercepat karena stok yang tersedia di distributor dan mitra Lenovo masih berada pada kisaran harga yang dinilai lebih menguntungkan dibanding periode berikutnya.
McCurdy juga memperingatkan bahwa meski harga telah mulai naik, puncak kenaikan belum terjadi. Ia memperkirakan lonjakan harga yang lebih tinggi dapat terjadi dalam waktu sekitar enam bulan.
Pernyataan tersebut sejalan dengan klaim Intel yang menyebut produsen laptop memiliki stok sekitar sembilan hingga 12 bulan sebelum kenaikan harga lebih terasa. Selain aspek harga, Lenovo juga menyoroti masalah ketersediaan komponen.
Seorang eksekutif Lenovo yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada CRN bahwa kekhawatiran terbesar justru pada menipisnya pasokan fisik. Ia mencontohkan kasus integrator sistem di Amerika Serikat yang tidak dapat memperoleh server dengan akselerasi GPU dari Dell karena stok habis, meski kesepakatan sudah dibuat. Menurutnya, kondisi pasar saat ini sangat cepat berubah, sehingga pembeli bisa kehilangan kesempatan bukan hanya karena harga, tetapi karena barang tidak lagi tersedia.
RAM dan komponen terkait memori digunakan luas pada ponsel, laptop, tablet, hingga konsol game. Dengan meningkatnya perebutan stok oleh berbagai perusahaan, Lenovo menilai dampak krisis memori ini baru mulai terlihat dan berpotensi berlangsung dalam jangka panjang.

