Kelangkaan pasokan chip memori diperkirakan masih akan membayangi industri perangkat keras global hingga akhir 2026. Proyeksi tersebut disampaikan Chief Executive Officer Lenovo Group Ltd., Yang Yuanqing, pada Kamis lalu.
Yang menyebut krisis pasokan memori sebagai tantangan signifikan bagi sektor teknologi. Pernyataan itu muncul setelah Lenovo melaporkan penurunan laba bersih 21% pada kuartal Desember, yang turut diikuti pelemahan saham perusahaan sebesar 4,7%.
Di sisi lain, Lenovo mencatatkan pendapatan yang lebih baik dari perkiraan, mencapai US$22,2 miliar. Namun, kinerja tersebut disebut tertekan oleh margin yang menyusut akibat lonjakan biaya chip memori.
Kenaikan biaya komponen ini berdampak langsung pada profitabilitas produsen perangkat keras dan menjadi isu yang dirasakan luas di sektor industri elektronik. Kondisi tersebut juga sejalan dengan peringatan dari perusahaan teknologi lain, termasuk Samsung, yang sebelumnya mengindikasikan potensi kelangkaan chip memori dan kemungkinan kenaikan harga produk elektronik di pasaran.
Dampak kelangkaan chip memori tidak hanya berkaitan dengan kinerja keuangan perusahaan, tetapi juga berpotensi memengaruhi ketersediaan produk bagi konsumen serta laju inovasi industri. Pelaku industri pun dituntut menyiapkan langkah mitigasi untuk menghadapi tantangan pasokan yang diperkirakan masih berlanjut.

