Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Okta Kumala Dewi, menyatakan keprihatinan atas eskalasi militer besar di kawasan Timur Tengah yang menurutnya telah meluas menjadi konflik terbuka. Ia menilai perkembangan terbaru tidak hanya meningkatkan ketegangan regional, tetapi juga berpotensi berdampak serius terhadap stabilitas ekonomi, politik, dan keamanan global.
“Ini bukan sekadar konfrontasi antara negara-negara besar. Ini adalah krisis yang memengaruhi kehidupan jutaan orang warga sipil tak berdosa yang berada di wilayah konflik,” kata Okta dalam keterangannya, Minggu, 1 Maret 2026. Ia menambahkan, krisis tersebut juga menyangkut perekonomian global yang bergantung pada stabilitas energi serta masa depan perdamaian internasional.
Di tengah situasi yang disebutnya masih berkembang pesat, Okta menekankan pentingnya perhatian dunia internasional agar tidak bergeser dari dampak kemanusiaan, diplomatik, dan ekonomi apabila konflik terus meluas.
Sebagai legislator yang membidangi hubungan luar negeri dan pertahanan, Okta meminta Kementerian Luar Negeri memaksimalkan upaya perlindungan terhadap Warga Negara Indonesia (WNI), terutama yang berada di kawasan terdampak. Ia menyoroti perlunya jalur komunikasi yang efektif, pembaruan data yang akurat, serta kesiapan langkah darurat termasuk evakuasi jika situasi memburuk.
Okta juga menilai Indonesia memiliki posisi strategis untuk berperan sebagai mediator karena menjalin hubungan baik dengan berbagai pihak, termasuk Iran, Amerika Serikat, dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Menurutnya, politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif memberikan legitimasi untuk mendorong perdamaian melalui kedekatan dengan negara-negara yang terlibat dan terdampak.
Lebih lanjut, Okta mengingatkan bahwa konflik bersenjata secara historis kerap meninggalkan dampak kemanusiaan yang mendalam, mulai dari jatuhnya korban sipil, krisis pengungsi, hingga kerusakan infrastruktur sosial yang membutuhkan waktu panjang untuk dipulihkan. “Kita harus mengingat bahwa setiap hari perang berarti kehilangan harapan, nyawa, dan masa depan. Dunia harus kembali pada diplomasi, bukan konfrontasi,” ujarnya.

