Jakarta — Ketua DPP LDII, Ardito Bhinadi, mengajak keluarga di Indonesia membangun empat pilar ketahanan rumah tangga sebagai langkah antisipatif menghadapi dampak perang di Timur Tengah. Menurutnya, konflik tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi dapat merembet ke kehidupan sehari-hari melalui kenaikan harga dan gangguan ekonomi.
Ardito menyampaikan, lonjakan harga energi dan terganggunya perdagangan global berpotensi memicu inflasi serta meningkatkan biaya hidup, termasuk di Indonesia. Karena itu, ia menilai keluarga perlu memperkuat ketahanan pangan, keuangan, energi, dan sosial sejak dini agar lebih siap menghadapi ketidakpastian ekonomi. Pernyataan itu ia sampaikan pada Selasa (10/3/2026).
Dosen Ilmu Ekonomi UPN Veteran Yogyakarta tersebut menjelaskan kawasan Teluk merupakan salah satu penghasil minyak dan LNG dunia. Jika perang berlanjut, kegiatan produksi, pengolahan, dan distribusi minyak serta LNG dinilai dapat terganggu. Ia juga menyoroti kemungkinan penutupan Selat Hormuz yang dapat menghambat aliran perdagangan minyak dan LNG dunia sehingga mendorong lonjakan harga energi.
Menurut Ardito, kenaikan harga minyak dan gas dapat berdampak luas ke berbagai sektor. Harga BBM dan biaya transportasi disebut berpotensi meningkat, lalu mendorong kenaikan harga pangan karena biaya pupuk, distribusi, dan logistik turut naik. Selain itu, barang impor cenderung lebih mahal akibat ongkos angkut yang meningkat serta tekanan terhadap nilai tukar negara berkembang ketika investor mencari aset aman.
Ardito menilai berbagai tekanan tersebut pada akhirnya masuk ke biaya hidup rumah tangga, mulai dari ongkos sekolah, kebutuhan dapur, transportasi, hingga biaya usaha kecil. Untuk merespons kondisi itu, ia menyarankan langkah pertama berupa penguatan ketahanan pangan keluarga.
Ia mendorong keluarga menyiapkan stok pangan rumah tangga yang realistis, tahan simpan, bergizi, dan sesuai kebiasaan konsumsi keluarga. Ardito menekankan prinsipnya bukan panic buying atau menimbun berlebihan, melainkan persiapan yang terukur. Ia juga mengusulkan bahan pangan pokok alternatif seperti umbi-umbian, sorgum, dan mi sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan.
Selain makanan, konsep ketahanan rumah tangga menurutnya mencakup stok kebutuhan dasar lain. Ia menyarankan pembelian dilakukan bertahap, menyimpan secukupnya, serta menerapkan sistem first in, first out (FIFO), yaitu barang yang lebih dulu dibeli digunakan lebih dulu. Dengan cara itu, keluarga dinilai dapat memiliki bantalan tanpa terjebak kepanikan.
Pilar berikutnya adalah ketahanan keuangan. Ardito menyarankan keluarga menyiapkan dana darurat dengan kisaran ideal 3–6 bulan pengeluaran. Ia menegaskan angka tersebut bukan patokan mutlak, melainkan standar kehati-hatian dalam manajemen keuangan.
Ia menjelaskan, saat terjadi guncangan ekonomi, pendapatan rumah tangga dapat terganggu akibat turunnya omzet usaha, proyek tertunda, jam kerja berkurang, hingga PHK. Sementara itu, pengeluaran pokok tetap berjalan, seperti makan, listrik, sekolah, transportasi, obat-obatan, dan cicilan pokok. Menurutnya, dana darurat tiga bulan dapat menjadi bantalan minimal bagi keluarga dengan pendapatan relatif stabil, sedangkan enam bulan lebih ideal bagi keluarga berpendapatan tidak tetap, seperti pedagang, pekerja lepas, atau rumah tangga yang bertumpu pada satu pencari nafkah.
Dalam konteks krisis global, Ardito menilai persoalannya bukan hanya kenaikan harga, tetapi juga ketidakpastian durasi tekanan ekonomi. Karena itu, semakin rentan struktur pendapatan keluarga, semakin besar bantalan dana darurat yang sebaiknya disiapkan. Ia menegaskan dana darurat bukan untuk investasi atau konsumsi tambahan, melainkan untuk menjaga keluarga tetap tenang agar tidak panik berutang atau menjual aset produktif secara tergesa-gesa.
Ardito juga mendorong diversifikasi penghasilan melalui usaha yang dinilai rasional, bermodal rendah, memiliki pasar jelas, dan bisa dimulai dari keterampilan yang sudah dimiliki keluarga. Dalam situasi tidak pasti, ia menyebut model usaha yang menyediakan kebutuhan sehari-hari cenderung lebih aman, seperti usaha makanan rumahan sederhana, katering kecil, laundry kiloan skala mikro, warung kebutuhan pokok, atau penjualan ulang produk rumah tangga dengan perputaran cepat.
Bagi keluarga yang memiliki keterampilan digital, ia menyarankan membuka jasa desain, admin media sosial, editing video, atau berjualan lewat marketplace. Sementara bagi yang memiliki lahan sempit, ia menyebut menanam tanaman pangan yang dibutuhkan sehari-hari dapat menjadi opsi.
Untuk ketahanan energi, Ardito menyarankan pengurangan penggunaan kendaraan pribadi, misalnya dengan berbagi perjalanan bersama anggota keluarga atau beralih ke transportasi umum. Ia juga mengimbau penggunaan listrik secara efisien, seperti memakai lampu secukupnya, mematikan alat yang tidak digunakan, mencabut charger, mengatur pemakaian AC pada suhu yang lebih hemat, serta memilih peralatan yang lebih efisien. Menurutnya, rumah tangga perlu membangun budaya hemat, bukan pelit, yakni menggunakan energi sesuai kebutuhan, bukan sekadar kebiasaan.
Di akhir pernyataannya, Ardito merangkum empat pilar utama ketahanan keluarga. Pertama, ketahanan pangan agar kebutuhan makanan pokok tetap terpenuhi meski harga bergejolak atau distribusi terganggu. Kedua, ketahanan keuangan melalui dana darurat, pengurangan utang konsumtif, prioritas belanja sesuai kebutuhan, dan sumber penghasilan tambahan.
Ketiga, ketahanan energi, termasuk upaya memiliki energi alternatif seperti panel surya, perilaku hemat BBM dan listrik, pengaturan mobilitas harian, serta penggunaan peralatan secara efisien. Keempat, ketahanan sosial, yaitu memiliki jaringan sosial yang baik—mulai dari tetangga, saudara, komunitas masjid, koperasi, kelompok pengajian, hingga komunitas ekonomi—yang dapat mendukung pertukaran informasi, gotong royong, bantuan sementara, sampai peluang usaha.

