Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menggelar media gathering untuk menyampaikan agenda Musyawarah Nasional (Munas) X LDII yang direncanakan berlangsung pada 7–9 April 2026.
Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, mengatakan Munas X akan menyoroti dampak dinamika geopolitik global terhadap ketahanan nasional, termasuk pada sektor ekonomi, pangan, dan energi. Menurutnya, perkembangan situasi global, termasuk konflik di Timur Tengah, menjadi alasan LDII memasukkan isu geopolitik sebagai salah satu pembahasan utama. Meski demikian, ia menegaskan Munas X tetap dirancang untuk memperkuat agenda penyiapan sumber daya manusia (SDM) dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
Chriswanto menilai konflik bersenjata di suatu kawasan dapat berdampak luas secara global. Karena itu, ia menekankan pentingnya penguatan ketahanan nasional yang tidak hanya mencakup aspek pertahanan, tetapi juga ekonomi, pangan, kesehatan, serta kualitas SDM.
Dalam kesempatan yang sama, Chriswanto turut menanggapi isu keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BOP), termasuk rencana pengiriman 8.000 pasukan Indonesia untuk misi perdamaian di Gaza. Ia menyatakan LDII menghargai sikap pemerintah dan menilai langkah tersebut sejalan dengan amanat pembukaan undang-undang untuk ikut serta menjaga perdamaian dunia.
Ia menambahkan, pengiriman pasukan dinilai tidak menjadi persoalan selama berada dalam kerangka misi penjaga perdamaian dan mewujudkan stabilitas kawasan. Menurutnya, Indonesia memiliki pengalaman mengirim pasukan perdamaian melalui Pasukan Garuda di berbagai negara, selama mandatnya menjaga perdamaian dan melindungi masyarakat sipil.
Chriswanto juga menyampaikan harapan agar pasukan Indonesia dipastikan tidak terlibat langsung dalam konflik bersenjata. Ia menilai pemerintah perlu mengevaluasi kembali keikutsertaan pasukan Indonesia jika mandat misi berubah. “Kalau fungsinya benar-benar sebagai pasukan penjaga perdamaian, itu baik. Tapi kalau sampai dijadikan tameng atau justru terlibat dalam konflik, tentu harus dipertimbangkan kembali,” katanya.
Selain isu geopolitik, Munas X disebut tetap berpegang pada delapan program prioritas LDII, yakni bidang kebangsaan, keagamaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, ketahanan pangan dan lingkungan hidup, teknologi digital, serta energi baru terbarukan.
Melalui Munas X, Chriswanto berharap LDII dapat merumuskan langkah strategis organisasi untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Ia juga menyatakan hasil Munas diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran bagi pembangunan nasional, terutama dalam menghadapi dinamika global yang kian tidak menentu.

