BERITA TERKINI
Laporan Radio Larang Kapal Melintas Selat Hormuz Muncul, Iran Bantah Perintahkan Penutupan

Laporan Radio Larang Kapal Melintas Selat Hormuz Muncul, Iran Bantah Perintahkan Penutupan

Pasukan Garda Revolusi Iran dilaporkan mengirim pesan yang melarang kapal-kapal melintas di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran terpenting dunia yang menjadi rute utama ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk.

Menurut laporan Reuters, seorang perwira yang bertugas dalam misi Aspides—misi Uni Eropa yang berfokus menjaga jalur perdagangan di Laut Merah—mengaku menerima transmisi radio dari Garda Revolusi Iran yang menyatakan “semua kapal dilarang melewat Selat Hormuz.” Badan operasi perdagangan maritim Inggris juga menyebut telah menerima sejumlah laporan dari kapal-kapal di kawasan Teluk yang mendapatkan pesan terkait penutupan selat tersebut.

Namun, Teheran membantah telah memerintahkan penutupan atau blokade Selat Hormuz. Situasi ini muncul setelah serangan militer Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada Sabtu (28/2/2026). Iran kemudian dilaporkan membalas serangan tersebut, termasuk ke negara-negara tetangga di kawasan Teluk.

Selat Hormuz memiliki arti strategis bagi perdagangan energi global. Selat ini menghubungkan negara-negara produsen minyak utama di Teluk—seperti Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab—dengan berbagai negara pengimpor energi. Iran berada di sisi utara Selat Hormuz, sementara di sisi selatan terdapat Oman dan Uni Emirat Arab. Lebar selat di pintu masuk sekitar 50 kilometer, sedangkan di titik tersempit sekitar 33 kilometer.

Data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) menunjukkan sekitar 20 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz setiap hari pada 2024, dengan nilai perdagangan energi setara sekitar 500 miliar dolar AS. Selain minyak, jalur ini juga penting bagi pengiriman gas alam cair (LNG). Pada 2024, sekitar 20 persen LNG dunia diangkut melalui Selat Hormuz, dengan Qatar sebagai produsen utama yang memanfaatkan rute tersebut.

Menurut EIA, sekitar 84 persen minyak mentah yang melewati Selat Hormuz pada 2024 dikirim ke negara-negara Asia. Untuk LNG, sekitar 83 persennya juga menuju Asia. China, Jepang, dan Korea Selatan disebut menjadi pembeli utama energi dari Teluk, dengan sekitar 60 persen minyak dan gas yang melintas di selat tersebut bermuara ke tiga negara itu.

Gangguan, apalagi penutupan total Selat Hormuz, dinilai berpotensi memicu lonjakan harga minyak global dalam jangka pendek. Analis Timur Tengah di Energy Intelligence, Colby Connelly, mengatakan tidak ada sumber lain yang bisa segera menggantikan minyak dari Teluk, seraya mengingatkan sekitar 70 persen kapasitas produksi OPEC+ berada di kawasan tersebut.

EIA mencatat Arab Saudi menjadi negara yang paling bergantung pada Selat Hormuz untuk ekspor minyak, dengan sekitar 5,5 juta barel per hari dikirim melalui jalur ini. Iran mengekspor sekitar 1,7 juta barel minyak per hari lewat Selat Hormuz pada 2025, dengan sekitar 90 persennya dijual ke China.

Meski Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memiliki jalur alternatif melalui Laut Merah dan Fujairah di Teluk Oman, kapasitasnya disebut relatif terbatas. Connelly memperingatkan harga minyak dapat melonjak melampaui 100 dolar AS per barel bila terjadi gangguan besar di Selat Hormuz. Hingga 27 Februari, harga minyak dunia masih berada di kisaran 63 dolar AS per barel.

Kenaikan harga minyak biasanya diikuti peningkatan harga bahan bakar dan biaya produksi. China diperkirakan menjadi salah satu negara yang terdampak signifikan karena perekonomiannya bergantung pada manufaktur dan ekspor. India juga berpotensi terpukul karena sekitar 60 persen pasokan gas alamnya diangkut melalui Selat Hormuz. Sementara itu, Korea Selatan disebut mengandalkan jalur ini untuk sekitar 60 persen impor minyak mentahnya, dan sekitar tiga perempat pasokan minyak Jepang juga bergantung pada Selat Hormuz.