BERITA TERKINI
Laporan Peringatkan Risiko Kekurangan Energi di Asia-Pasifik di Tengah Ketidakpastian Konflik AS-Iran

Laporan Peringatkan Risiko Kekurangan Energi di Asia-Pasifik di Tengah Ketidakpastian Konflik AS-Iran

Sejumlah lembaga pemeringkat dan penyedia data ekonomi menyoroti meningkatnya tekanan pada rantai pasok dan energi di kawasan Asia-Pasifik di tengah ketidakpastian terkait konflik AS dan Iran. Data manajer pembelian menunjukkan tanda pelemahan yang nyata pada sektor manufaktur, bersamaan dengan lonjakan biaya produksi.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa “produksi manufaktur di sebagian besar Asia-Pasifik telah melemah tajam, sementara harga input melonjak,” yang dinilai sebagai sinyal bahwa kendala pasokan bersifat struktural dan bukan sekadar gangguan sementara.

Tekanan disebut paling terlihat di berbagai ekonomi Asia-Pasifik yang sangat bergantung pada impor energi dan bahan bakar olahan yang disalurkan melalui pusat-pusat regional. Kondisi ini membuat kawasan lebih rentan terhadap gangguan pasokan serta perubahan harga energi.

S&P menggambarkan adanya kesenjangan yang kian lebar antara ekonomi yang mampu menyerap guncangan dan yang tidak. Dalam pemetaan tersebut, negara-negara dikelompokkan ke dalam kategori “stabil,” “tertekan,” dan “sangat tertekan” berdasarkan kemampuan mengelola inflasi, tekanan nilai tukar, dan risiko pembiayaan.

Laporan itu juga menyoroti potensi pergeseran “dari volatilitas harga ke kekurangan fisik.” Transisi semacam ini dinilai dapat meningkatkan risiko terhadap pertumbuhan ekonomi, stabilitas mata uang, dan ketahanan sektor keuangan di kawasan.

Sementara itu, Fitch Ratings memodelkan lintasan yang lebih berat apabila konflik berlanjut. Meski asumsi dasar laporan menyebut gangguan dapat mereda dalam beberapa bulan ke depan, Fitch menilai dalam skenario terburuk—ketika Selat Hormuz tetap tertutup secara efektif—dampaknya berpotensi meluas secara signifikan.