BERITA TERKINI
KTT Trump-Xi Dijadwal Ulang di Tengah Konflik Timur Tengah dan Pembahasan Tarif AS-China

KTT Trump-Xi Dijadwal Ulang di Tengah Konflik Timur Tengah dan Pembahasan Tarif AS-China

Pemerintahan Amerika Serikat menyatakan konflik yang sedang berlangsung diperkirakan memakan waktu sekitar empat hingga enam minggu. Pernyataan itu disampaikan Leavitt saat menjawab pertanyaan apakah penetapan tanggal baru untuk pertemuan puncak Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping menandakan upaya Trump untuk mengakhiri perang pada periode tersebut.

Leavitt tidak menjawab secara langsung ketika ditanya apakah berakhirnya perang menjadi prasyarat bagi penjadwalan ulang pertemuan tersebut. Ia mengatakan telah ada diskusi mengenai penjadwalan ulang pertemuan antara kedua pemimpin, serta menyebut Xi memahami pentingnya Trump berada di dalam negeri selama operasi tempur berlangsung.

Menurut Leavitt, Xi memahami permintaan penundaan dan menerimanya, sehingga tanggal baru pertemuan telah dicatat. Para pejabat AS juga berupaya mengecilkan dampak penundaan KTT itu, dengan menegaskan bahwa hal tersebut tidak terkait dengan hubungan dagang maupun hubungan China dengan Iran.

Meski demikian, penundaan itu menyoroti bagaimana konflik di Timur Tengah mengganggu agenda ekonomi dan kebijakan luar negeri Trump. Trump sebelumnya telah memperingatkan KTT dapat ditunda jika China tidak berkomitmen membantu mengamankan Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan energi yang disebut efektif tertutup akibat perang.

Dalam beberapa kesempatan, Trump menunjukkan sikap optimistis terhadap China, meski hal itu menantang sebagian pandangan di Partai Republik yang memandang China sebagai musuh geopolitik utama Amerika. Namun, sejumlah isu tetap menjadi agenda pembahasan kedua pemimpin.

Pertemuan yang dijadwal ulang itu diperkirakan menjadi ujian baru mengenai posisi kedua negara terhadap status quo perdagangan, dukungan AS untuk Taiwan, serta potensi dampak serangan AS terhadap Iran yang dapat memicu lonjakan harga minyak.

Sebelumnya, pejabat kedua negara, termasuk Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer dan Menteri Keuangan Scott Bessent, bertemu di Paris pada Maret. Pertemuan tersebut disebut dimaksudkan untuk meletakkan dasar bagi pertemuan puncak Trump dan Xi.

Kedua pihak menyatakan kesediaan untuk terus menstabilkan hubungan setelah perang tarif timbal balik yang mendorong kenaikan bea masuk pada 2025 dan memicu kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi global. Dalam pembahasan lanjutan, kedua negara juga membicarakan kemungkinan pembentukan panel penegakan perdagangan untuk membantu menyelesaikan sengketa, sebuah mekanisme yang oleh Greer disebut sebagai “Dewan Perdagangan AS-China.”

KTT mendatang akan menjadi pertemuan tatap muka pertama Trump dan Xi sejak putusan Mahkamah Agung AS pada Februari yang membatalkan tarif per negara yang diberlakukan presiden AS terhadap mitra dagang, termasuk China, melalui kewenangan darurat. Trump menyatakan akan membangun kembali tembok tarif tersebut melalui otoritas lain.

Saat ini, Trump telah memberlakukan bea masuk menyeluruh 10% sebagai langkah sementara, yang berdampak pada penurunan tarif barang-barang China untuk sementara waktu. Namun, Greer telah meluncurkan penyelidikan Pasal 301 guna menjadi dasar pemberlakuan tarif terhadap sejumlah negara, termasuk China, yang berpotensi menggantikan bea masuk sementara yang akan berakhir pada Juli.