Nusa Dua, Bali — Malaria masih menjadi salah satu penyakit menular yang memerlukan perhatian bersama karena prevalensinya dinilai masih tinggi di tingkat nasional maupun global. Berdasarkan World Malaria Record 2023, diperkirakan terdapat 249 juta kasus malaria di seluruh dunia. Indonesia tercatat menempati urutan kedua dengan kasus malaria terbanyak di Asia setelah India, dengan 1,1 juta kasus pada 2023.
Dalam konteks kawasan, Indonesia termasuk negara Asia Pasifik yang menyatakan komitmen terhadap eliminasi malaria. Untuk mendorong penguatan program eliminasi di wilayah ini, The 9th Asia Pacific Leaders’ Summit on Malaria Elimination (KTT Pemimpin Asia Pasifik untuk Eliminasi Malaria ke-9) diselenggarakan pada 16–17 Juni 2025 di Bali dengan tema “Bersama Dalam Aksi Menuju Bebas Malaria (Unity Action Towards Zero Malaria)”.
KTT tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan melalui Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) dan Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit (Ditjen P2). Penyelenggaraan dilakukan bermitra dengan Asia Pacific Leaders Malaria Alliance (APLMA), Asia Pacific Malaria Elimination Network (APMEN), Global Fund, WHO, serta sektor swasta.
Forum ini diposisikan sebagai wadah dialog dan pertukaran informasi bagi pemangku kepentingan nasional, regional, dan global yang berkomitmen mengeliminasi malaria. Selain itu, pertemuan ini juga diarahkan untuk meninjau kemajuan serta membahas tantangan dalam mencapai target eliminasi malaria pada 2030.
KTT ke-9 dibuka oleh Menteri Kesehatan RI Budi G Sadikin. Sejumlah tokoh dan pejabat turut hadir, antara lain Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Special Advisor APLMA, serta menteri kesehatan dari Papua Nugini, Timor-Leste, Vanuatu, Solomon Islands, dan Pakistan. Hadir pula Dr. Sarthak Das (Chief Executive Officer APLMA), Peter Sand (Executive Director Global Fund), Dr. Saia Ma’u Piukala (WHO Regional Director for the Western Pacific), Dr. Chris Ellas (President of the Global Development Gates Foundation), Dr. Mrunal Shetye (UNICEF Indonesia Representative), Dr. Eduardo P. Banzon (ADB), Tony Wenas (Presiden Direktur PT Freeport Indonesia), serta pakar kesehatan dan lingkungan dari dalam dan luar negeri di kawasan Asia Pasifik.
Selama dua hari, agenda hari pertama difokuskan pada diskusi teknis mendalam yang memuat paparan dan wawasan dari para pakar nasional dan internasional. Hari kedua diarahkan pada dialog kepemimpinan tingkat tinggi. Pertemuan ini menyoroti pencapaian negara, pendekatan inovatif, serta kemajuan dalam upaya pemberantasan malaria.
Dari KTT ini, salah satu keluaran yang diumumkan adalah inisiatif EDEN (Eliminating Malaria and other Vector Borne Diseases through Enhanced Regional Partnerships). Inisiatif tersebut bertujuan mengeksplorasi peluang pembiayaan multisumber yang komprehensif dan berkelanjutan.
Indonesia juga meluncurkan “Indonesia Call to End Malaria Initiative (ICMI)”, yang disebut sebagai upaya dan komitmen nasional untuk mencegah serta menanggulangi malaria, sekaligus memperkuat kolaborasi dengan negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Indonesia. Inisiatif ini juga ditegaskan sebagai bagian dari komitmen Indonesia terhadap keamanan kesehatan regional dan kepemimpinan dalam memerangi malaria di Asia Pasifik.
Selain itu, KTT menghasilkan kesepakatan bersama berupa komitmen para gubernur di Papua untuk melaksanakan eliminasi malaria di wilayah masing-masing.
Di sela rangkaian kegiatan, Menteri Kesehatan Budi G Sadikin juga melakukan sejumlah pertemuan bilateral dengan negara dan organisasi internasional, di antaranya Papua Nugini, Vanuatu, Pakistan, Rwanda, Fiji, President of the Global Development Gates Foundation, serta Executive Director Global Fund.
Melalui kesepakatan dan komitmen di tingkat nasional maupun kawasan Asia Pasifik, penyelenggara menyampaikan harapan agar target nol malaria dapat dicapai pada 2030.

