BERITA TERKINI
KSSK: Stabilitas Keuangan Indonesia Tetap Terjaga di Tengah Volatilitas Global

KSSK: Stabilitas Keuangan Indonesia Tetap Terjaga di Tengah Volatilitas Global

JAKARTA – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia pada triwulan I 2026 tetap terjaga, meski volatilitas pasar keuangan global meningkat seiring eskalasi konflik di Timur Tengah.

Penilaian tersebut disampaikan KSSK yang beranggotakan Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), melalui rapat berkala KSSK II tahun 2026 yang digelar pada Senin, 27 April 2026.

KSSK menyebutkan, memasuki April 2026, dinamika penyelesaian konflik di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang memicu volatilitas pasar keuangan global, terutama melalui lonjakan harga energi.

Merespons perkembangan tersebut, KSSK menyatakan akan terus mencermati dan melakukan asesmen yang bersifat forward looking terhadap kinerja perekonomian dan sektor keuangan terkini, seiring meningkatnya risiko ketidakpastian ekonomi global. KSSK juga menegaskan upaya mitigasi akan dilakukan secara terkoordinasi, baik antarlembaga anggota KSSK maupun bersama kementerian/lembaga terkait.

Di tengah dinamika global tersebut, KSSK menilai ekonomi Indonesia tetap tumbuh kuat dan mencerminkan daya tahan perekonomian nasional. Pada triwulan I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 5,39% yoy.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh akselerasi belanja pemerintah, terutama belanja prioritas, yang turut mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga dan investasi. KSSK mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh tinggi seiring terjaganya kepercayaan konsumen, meningkatnya aktivitas ekonomi pada momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), serta adanya stimulus dan bantuan sosial pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat.

Sementara itu, KSSK juga menyoroti dampak konflik yang memicu gangguan pasokan global. Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak dunia dan sejumlah komoditas penting lainnya, sehingga memengaruhi kelancaran rantai pasok perdagangan antarnegara.

Sejalan dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi dunia diprakirakan melambat menjadi 3,1% pada 2026 dari 3,4% pada 2025. Inflasi global diperkirakan meningkat menjadi 4,4% pada 2026 dari 4,1% pada 2025, sesuai proyeksi International Monetary Fund (IMF) dalam World Economic Outlook edisi April 2026.

KSSK menilai kenaikan tekanan inflasi itu mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter global, termasuk penurunan Fed Funds Rate (FFR) di Amerika Serikat.

Di pasar keuangan, volatilitas disebut meningkat akibat perilaku flight to safety investor yang mendorong penguatan dolar AS serta membatasi aliran modal global ke negara berkembang.