JAKARTA — Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia pada triwulan I 2026 tetap terjaga, meski volatilitas pasar keuangan global meningkat seiring eskalasi konflik di Timur Tengah.
Ketua KSSK yang juga Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, memasuki April 2026 dinamika penyelesaian konflik di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang memicu gejolak di pasar keuangan global, terutama melalui lonjakan harga energi.
“Berdasarkan perkembangan tersebut, KSSK terus mencermati dan melakukan asesmen forward looking atas kinerja perekonomian dan sektor keuangan terkini seiring risiko ketidakpastian ekonomi global yang meningkat, sekaligus melakukan upaya mitigasi secara terkoordinasi, baik antarlembaga anggota KSSK maupun dengan Kementerian/Lembaga lain,” kata Purbaya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (7/5).
Menurut KSSK, prospek perekonomian dunia melemah akibat konflik di Timur Tengah. Gangguan pasokan global dinilai mendorong kenaikan harga minyak dunia dan sejumlah komoditas penting lainnya, yang kemudian memengaruhi kelancaran rantai pasok perdagangan antarnegara.
Sejalan dengan perkembangan itu, pertumbuhan ekonomi dunia diprakirakan melambat menjadi 3,1% pada 2026 dari 3,4% pada 2025. Sementara inflasi global diperkirakan meningkat menjadi 4,4% pada 2026 dari 4,1% pada 2025, sebagaimana prakiraan International Monetary Fund (IMF) dalam World Economic Outlook edisi April 2026.
KSSK menyebut kenaikan tekanan inflasi global mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter, termasuk penurunan Fed Funds Rate (FFR) di Amerika Serikat. Di pasar keuangan, volatilitas meningkat dipengaruhi perilaku flight to safety investor yang mendorong penguatan dolar AS serta membatasi aliran modal global ke negara berkembang.
Di dalam negeri, KSSK menilai ekonomi Indonesia tetap tumbuh kuat dan mencerminkan daya tahan di tengah dinamika global. Pada triwulan I 2026, ekonomi tumbuh 5,61% secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya sebesar 5,39% yoy.
Penguatan pertumbuhan itu didorong akselerasi belanja pemerintah, terutama belanja prioritas, yang disebut turut meningkatkan konsumsi rumah tangga dan investasi. Konsumsi rumah tangga tumbuh tinggi dengan dukungan kepercayaan konsumen, peningkatan aktivitas ekonomi seiring momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), serta stimulus dan bantuan sosial pemerintah untuk menjaga daya beli.
Konsumsi pemerintah juga tumbuh signifikan untuk mendorong program prioritas, antara lain Makan Bergizi Gratis (MBG), Desa Nelayan, dan Sekolah Rakyat. Akselerasi belanja dilakukan sejak awal tahun dan diharapkan memberikan multiplier effect yang lebih kuat pada periode berikutnya.
Sementara itu, investasi tumbuh tinggi seiring mulai berjalannya proyek hilirisasi Danantara serta pembangunan infrastruktur pendukung program prioritas pemerintah. KSSK juga mencatat sejumlah indikator aktivitas ekonomi yang mendukung kinerja triwulan I 2026, termasuk aktivitas manufaktur yang berada di zona ekspansi pada Maret dengan angka 50,1, penjualan ritel yang tumbuh positif pada Maret sebesar 2,4% yoy, serta neraca perdagangan yang melanjutkan tren surplus pada Maret sebesar 3,3 miliar dolar AS.
Dari sisi likuiditas, KSSK menyampaikan efektivitas koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga kecukupan likuiditas perekonomian dan perbankan tercermin pada pertumbuhan M0 (uang primer) nonadjusted sebesar 11,8% yoy pada Maret 2026, serta biaya dana perbankan yang dinilai semakin efisien.
“Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi keseluruhan tahun 2026 diprakirakan mencapai 5,4% atau lebih, ditopang berbagai sinergi kebijakan dari Pemerintah dan lembaga anggota KSSK lainnya untuk menjaga berlanjutnya momentum pertumbuhan,” ujar Purbaya.
KSSK juga menekankan pentingnya memperkuat ketahanan eksternal di tengah ketidakpastian global yang meningkat. Neraca perdagangan pada Januari—Maret 2026 tercatat surplus 5,5 miliar dolar AS, ditopang surplus perdagangan nonmigas di tengah defisit neraca perdagangan migas.
Namun, pada triwulan I 2026 investasi portofolio asing mencatat net outflows sebesar 1,7 miliar dolar AS, dipengaruhi keluarnya modal asing akibat ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi. Nilai tukar rupiah pada akhir Maret 2026 berada di Rp16.995 per dolar AS, melemah 1,88% secara point to point dibandingkan posisi akhir 2025.