BERITA TERKINI
Kremlin Bantah Tuduhan AS soal Uji Coba Nuklir Rahasia Rusia dan China

Kremlin Bantah Tuduhan AS soal Uji Coba Nuklir Rahasia Rusia dan China

Kremlin membantah tuduhan Amerika Serikat (AS) bahwa Rusia dan China melakukan uji coba nuklir secara rahasia. Bantahan itu disampaikan menyusul pernyataan Washington terkait dugaan uji coba nuklir tersembunyi yang disebut dilakukan Beijing pada 2020.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan baik Federasi Rusia maupun Republik Rakyat China tidak melakukan uji coba nuklir seperti yang dituduhkan. “Kami telah mendengar banyak referensi terkait sejumlah uji coba. Baik Federasi Rusia maupun China disebut dalam konteks ini. Tidak satu pun dari Federasi Rusia maupun China telah melakukan uji coba nuklir,” ujar Peskov kepada wartawan.

Peskov menambahkan, pemerintah China juga telah menyampaikan bantahan tegas atas tudingan tersebut. “Kami juga mengetahui bahwa tuduhan ini telah dibantah secara kategoris oleh perwakilan Republik Rakyat China, jadi itulah situasinya,” kata Peskov.

Di awal bulan ini, AS menuduh China melakukan uji coba nuklir rahasia pada 2020. Tuduhan itu muncul di tengah dorongan Washington untuk membentuk perjanjian pengendalian senjata nuklir yang baru dan lebih luas, yang melibatkan China selain Rusia.

Presiden AS Donald Trump mendesak China agar bergabung dengan Amerika Serikat dan Rusia dalam negosiasi perjanjian baru sebagai pengganti New START, yakni perjanjian terakhir pengendalian senjata nuklir antara Washington dan Moskow.

Perjanjian New START resmi berakhir pada 5 Februari lalu. Berakhirnya perjanjian tersebut mengakhiri kerangka kerja utama yang selama ini membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis yang dapat dikerahkan oleh kedua negara.

Situasi ini memicu kekhawatiran di kalangan sejumlah analis dan pakar keamanan internasional bahwa dunia berpotensi memasuki fase perlombaan senjata nuklir yang semakin cepat. Namun, sebagian pakar pengendalian senjata menilai kekhawatiran itu berlebihan dan berpendapat bahwa meski tidak ada perjanjian formal yang berlaku, mekanisme transparansi serta kepentingan strategis masing-masing negara masih dapat menahan eskalasi secara drastis.

Isu pengendalian senjata nuklir kembali menjadi sorotan global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Rusia, dan China. Perkembangan ini dipandang akan menjadi faktor penting bagi stabilitas keamanan internasional dalam beberapa tahun ke depan.