BERITA TERKINI
Korea Selatan Tempuh Diplomasi dan Koordinasi Keamanan untuk Bebaskan 26 Kapal yang Tertahan di Selat Hormuz

Korea Selatan Tempuh Diplomasi dan Koordinasi Keamanan untuk Bebaskan 26 Kapal yang Tertahan di Selat Hormuz

Korea Selatan meningkatkan langkah diplomatik dan koordinasi keamanan internasional untuk mengamankan 26 kapal yang terkait dengan negaranya dan masih tertahan di Selat Hormuz. Seorang pejabat senior di Cheong Wa Dae menegaskan bahwa keamanan jalur pelayaran di kawasan tersebut sangat krusial bagi ekonomi domestik, mengingat pentingnya Selat Hormuz bagi arus logistik energi.

Menurut pejabat itu, Seoul terus berkoordinasi dengan negara-negara yang memiliki visi serupa demi menjaga keselamatan jalur pelayaran. Ia juga menyebut rangkaian pertemuan tingkat tinggi yang menjadi dasar pembahasan terbaru, termasuk pertemuan kepala militer pada 26 Maret dan pertemuan menteri luar negeri pada 2 April.

Pejabat tersebut menekankan bahwa pertemuan puncak yang digelar menandai bersatunya dua jalur pendekatan: jalur militer yang diinisiasi Paris dan jalur diplomatik yang dipelopori London. Presiden Prancis Emmanuel Macron, melalui platform X pada Selasa (14/4/2026), menyatakan misi yang dibahas bersifat multilateral dan defensif, dengan tujuan memulihkan kebebasan navigasi bagi negara-negara non-agresif. Sementara itu, pihak Inggris berharap pertemuan tersebut menghasilkan rencana multinasional yang terkoordinasi, independen, dan menyeluruh untuk melindungi pelayaran internasional setelah konflik berakhir.

Hingga kini, belum dipastikan apakah pertemuan puncak itu akan menghasilkan pernyataan bersama. Namun, Presiden Lee dijadwalkan menyampaikan pesan khusus dalam pertemuan tersebut.

Di sisi lain, Seoul juga memperkuat jalur komunikasi langsung dengan Teheran. Sumber diplomatik Korea Selatan pada 14 April 2026 menyebutkan bahwa pemerintah meningkatkan upaya diplomatik untuk mengamankan pembebasan 26 kapal yang tertahan, di tengah ketegangan yang meningkat setelah rencana Amerika Serikat menerapkan blokade selektif terhadap lalu lintas maritim Iran.

Utusan Khusus Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, Chung Byung-ha, dilaporkan baru-baru ini bertemu dengan pejabat senior Iran, termasuk Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Fokus pembahasan disebut mencakup berbagi data maritim, di mana Seoul menyerahkan rincian kapal serta 173 awak yang terdampar. Korea Selatan menyatakan langkah itu dilakukan untuk memastikan keselamatan mereka tanpa menuntut perlakuan istimewa.

Misi diplomatik tersebut juga diarahkan untuk menegosiasikan kebebasan navigasi, termasuk memastikan kapal berbendera Korea dapat melintasi jalur logistik energi yang vital di tengah ancaman serangan Teheran terhadap kapal yang melintas tanpa izin. Selain itu, Seoul berencana mengirim paket bantuan melalui organisasi internasional pada pekan ini untuk meredakan situasi, meski pihaknya menyatakan bantuan itu tidak terkait langsung dengan negosiasi mengenai kapal.

Ketegangan di kawasan meningkat setelah pembicaraan gencatan senjata di Pakistan pada 7 April 2026 dilaporkan gagal. Washington kemudian mengumumkan blokade maritim yang menargetkan pelabuhan Iran mulai Senin (13/4/2026) malam. Seoul menyatakan kekhawatiran bahwa langkah tersebut dapat memperburuk akses navigasi bagi kapal-kapal komersialnya. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur penting bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Hingga saat ini, 26 kapal terkait Korea Selatan masih tertahan. Terdapat laporan bahwa satu kapal tanker, Mombasa B, berhasil melintas melalui rute yang disetujui Iran, namun otoritas Seoul menyebut kapal itu tidak membawa warga negara Korea dan dioperasikan oleh pihak ketiga.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Korea Selatan menegaskan belum menerima permintaan resmi dari Amerika Serikat untuk bergabung dalam operasi militer atau mengirim kapal penjinak ranjau ke wilayah tersebut.