BERITA TERKINI
Konsul Jenderal Tiongkok Zhang Zhisheng Paparkan Arah Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030)

Konsul Jenderal Tiongkok Zhang Zhisheng Paparkan Arah Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030)

Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok Zhang Zhisheng menyampaikan bahwa Sidang Keempat Kongres Rakyat Nasional (KRN) ke-14 dan Sidang Keempat Komite Nasional Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC) ke-14—yang dikenal sebagai “Dua Sidang Nasional”—telah digelar di Beijing. Menurutnya, forum tersebut menjadi bagian dari praktik demokrasi rakyat secara menyeluruh di Tiongkok, dengan para perwakilan dan anggota dari berbagai kelompok etnis serta sektor membahas isu-isu utama kenegaraan.

Zhang menyebut hasil inti Dua Sidang Nasional 2026 adalah peninjauan dan pengesahan Garis Besar Rencana Lima Tahun ke-15 untuk Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional Tiongkok 2026–2030. Dokumen itu memuat tujuan pembangunan, tugas utama, serta 109 proyek utama untuk lima tahun ke depan, dan diposisikan sebagai rencana aksi modernisasi ala Tiongkok sekaligus peta jalan kerja sama yang saling menguntungkan dengan dunia.

Dalam pemaparannya, Zhang menekankan bahwa penggerak utama Rencana Lima Tahun ke-15 adalah pembangunan berkualitas tinggi berbasis “kekuatan produktif tipe baru”. Tiongkok berencana memperkuat kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi strategis nasional, termasuk menyiapkan langkah di bidang kecerdasan buatan, biomanufaktur, informasi kuantum, energi baru, material baru, peralatan canggih, serta eksplorasi ruang angkasa dan laut dalam. Bersamaan dengan itu, Tiongkok juga mendorong transformasi digital, cerdas, dan hijau pada industri tradisional serta memperdalam integrasi ekonomi digital dengan ekonomi riil.

Sejumlah target yang dicantumkan antara lain: pada 2030, nilai tambah industri ekonomi digital inti ditargetkan mencapai 12,5% dari PDB, sementara total belanja riset dan pengembangan (R&D) ditargetkan tumbuh rata-rata tahunan lebih dari 7%.

Zhang juga menyoroti koordinasi antara pembangunan dan keamanan sebagai landasan penting rencana tersebut. Dalam aspek ketahanan pangan, Tiongkok memprioritaskan pembangunan pertanian dan pedesaan, mendorong revitalisasi pedesaan, memperkuat industri benih dan dukungan teknologi pertanian, serta menstabilkan kapasitas produksi pangan dengan menegaskan kendali atas ketersediaan pangan sendiri.

Untuk ketahanan energi, Tiongkok disebut mempercepat perencanaan dan pembangunan sistem energi baru, mengupayakan kombinasi optimal antara energi tradisional dan energi baru, serta meningkatkan produksi, cadangan, dan swasembada energi. Di bidang keamanan ekonomi dan keuangan, rencana itu memuat penguatan tata kelola ekonomi makro dan sistem regulasi keuangan untuk mencegah serta menyelesaikan risiko besar. Sementara pada keamanan data dan siber, Tiongkok menekankan perlindungan infrastruktur informasi penting dan peningkatan kemampuan tata kelola data.

Rencana Lima Tahun ke-15 juga menempatkan rakyat sebagai pusat kebijakan dengan tujuan kemakmuran bersama. Dalam lima tahun ke depan, Tiongkok berencana menerapkan strategi yang mengutamakan lapangan kerja, menggabungkan perluasan kapasitas kerja dengan peningkatan kualitas pekerjaan, serta menggelar pelatihan keterampilan kejuruan skala besar. Di sisi layanan publik, Tiongkok menargetkan penguatan layanan pendidikan, kesehatan, perawatan lansia, perawatan anak, dan perumahan.

Target sosial yang disebutkan antara lain peningkatan rata-rata tahun pendidikan penduduk usia kerja menjadi 11,7 tahun, peningkatan proporsi tempat tidur perawatan di lembaga perawatan lansia menjadi 73%, serta kenaikan rata-rata harapan hidup menjadi 80 tahun.

Dalam bidang lingkungan, Zhang menyatakan rencana tersebut menegaskan pembangunan hijau dan rendah karbon dengan mengoordinasikan pengurangan karbon, pengurangan polusi, penghijauan, dan pertumbuhan. Selama lima tahun ke depan, emisi karbon dioksida per unit PDB ditargetkan turun kumulatif 17%, disertai pendalaman upaya pengendalian polusi, penguatan perlindungan dan restorasi ekosistem, serta peningkatan keanekaragaman hayati. Tiongkok juga menargetkan kemajuan stabil menuju puncak karbon dan netralitas karbon, termasuk pengembangan energi hijau, konservasi energi, perlindungan lingkungan, dan teknologi rendah karbon.

Zhang menambahkan, keterbukaan tingkat tinggi menjadi bagian dari tanggung jawab global yang ditekankan dalam Rencana Lima Tahun ke-15. Tiongkok, menurutnya, akan memperluas keterbukaan kelembagaan di bidang peraturan, regulasi, manajemen, dan standar, selaras dengan aturan perdagangan dan ekonomi internasional berstandar tinggi. Tiongkok juga disebut akan terus mengoptimalkan lingkungan bisnis yang berorientasi pasar, berbasis hukum, dan terinternasionalisasi, sekaligus menarik dan memanfaatkan investasi asing serta melindungi hak dan kepentingan sah investor asing.

Dalam kerja sama internasional, Tiongkok berencana memperdalam kerja sama praktis dalam pembangunan bersama Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI), termasuk mendorong konektivitas melalui Kereta Api Ekspres Tiongkok–Eropa dan Koridor Perdagangan Darat–Laut Internasional Baru, serta memfasilitasi liberalisasi perdagangan dan investasi. Zhang juga menegaskan komitmen pada multilateralisme, dukungan pada sistem internasional dengan PBB sebagai inti dan sistem perdagangan multilateral dengan WTO sebagai inti, serta koordinasi kebijakan ekonomi makro untuk menjaga stabilitas rantai industri dan pasokan global.

Menurut Zhang, nilai utama Dua Sidang Nasional 2026 dan Rencana Lima Tahun ke-15 adalah upaya memberikan kepastian dan peluang baru bagi dunia melalui keterbukaan pasar, pembangunan berbasis inovasi, transformasi hijau, serta pendekatan pembangunan damai dan kerja sama saling menguntungkan. Ia juga menyebut prospek ekonomi jangka panjang Tiongkok dinilai semakin membaik, dengan tren pertumbuhan berkelanjutan yang semakin terkonsolidasi.

Di bagian akhir, Zhang menyoroti hubungan Tiongkok dan Indonesia sebagai sesama negara berkembang utama dan kekuatan penting di “Global Selatan”. Ia menyatakan kerja sama saling menguntungkan kedua negara di berbagai bidang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, Rencana Lima Tahun ke-15 Tiongkok dan visi “Indonesia Emas 2045” memiliki kompatibilitas tujuan dan proses sebagai rancangan tingkat atas menuju modernisasi masing-masing negara.

Zhang menyampaikan Tiongkok bersedia bekerja sama dengan Indonesia, berpedoman pada konsensus penting yang telah dicapai kedua kepala negara, untuk menyelaraskan Rencana Lima Tahun ke-15 dengan visi “Indonesia Emas 2045”, memperdalam kerja sama saling menguntungkan, serta mendorong pembangunan komunitas Tiongkok–Indonesia dengan masa depan bersama.