Menjelang Idul Fitri, sebagian masyarakat tidak hanya menghitung hari menuju takbir, tetapi juga memantau pergerakan nilai tukar. Dalam periode Ramadhan ini, rupiah sempat melemah hingga berada di kisaran Rp 16.800–Rp 16.900 per dolar AS, bahkan sempat menembus Rp 17.000.
Pelemahan rupiah tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat–Israel dan Iran memicu kekhawatiran pasar global, terutama terkait pasokan energi dan keamanan jalur pelayaran. Dampaknya, harga minyak dunia dilaporkan melonjak dan sempat melewati 100 dolar AS per barel akibat gangguan pasokan serta ancaman terhadap jalur distribusi energi.
Bagi Indonesia yang masih mengimpor sebagian besar kebutuhan energi, lonjakan harga minyak berpotensi menambah tekanan pada anggaran negara. Anggaran 2026 dihitung dengan asumsi harga minyak sekitar 70 dolar AS per barel. Setiap kenaikan 1 dolar AS disebut dapat menambah beban subsidi sekitar Rp 10,3 triliun, sementara tambahan pendapatan negara sekitar Rp 3,6 triliun. Selisihnya menjadi potensi lubang fiskal sekitar Rp 6,7 triliun.
Tekanan tersebut dapat berujung pada kenaikan harga yang dipicu oleh meningkatnya biaya produksi, atau yang kerap disebut ekonom sebagai cost-push inflation. Di tingkat rumah tangga, dampak ini biasanya terasa dalam bentuk kenaikan harga barang secara bertahap, terutama saat konsumsi cenderung meningkat menjelang Lebaran.
Secara musiman, periode menjelang Idul Fitri biasanya ditandai menguatnya aktivitas ekonomi domestik, seiring naiknya belanja rumah tangga dan meningkatnya perputaran uang di pasar. Namun, ketidakpastian global tahun ini membuat situasi lebih rentan. Saat konflik memanas, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap aman seperti dolar AS, sehingga menekan mata uang negara berkembang.
Dalam kondisi itu, pasar keuangan juga merespons cepat. Pasar saham Indonesia sempat turun lebih dari 3 persen dalam satu sesi perdagangan, dipengaruhi sentimen geopolitik global.
Tekanan serupa juga dialami sejumlah negara lain. Jepang menghadapi kenaikan biaya impor akibat melemahnya yen dan lonjakan harga energi. Indeks harga impor Jepang tercatat naik sekitar 2,8 persen pada Februari 2026, yang menunjukkan adanya tekanan inflasi dari luar negeri. Sementara itu, Inggris juga diperkirakan menghadapi risiko peningkatan inflasi hingga sekitar 3 persen apabila konflik berlanjut.
Salah satu titik krusial yang menjadi perhatian pasar adalah Selat Hormuz, jalur sempit yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan energi dunia. Gangguan di wilayah ini, baik karena perang maupun blokade, berpotensi mendorong lonjakan harga energi global.
Konsekuensinya, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga bahan bakar atau memperbesar subsidi. Hingga menjelang Lebaran 2026, pemerintah memilih menahan harga bahan bakar untuk menjaga konsumsi masyarakat. Namun, langkah ini dinilai hanya memberi ruang waktu tanpa menghapus risiko yang mendasarinya.
Meski demikian, sejumlah faktor domestik disebut masih menjadi penopang. Cadangan devisa Bank Indonesia dinilai relatif kuat, sementara konsumsi dalam negeri tetap menjadi tulang punggung ekonomi. Di sisi lain, tradisi berbagi saat Lebaran—melalui zakat, sedekah, dan THR—sering kali menjadi bantalan sosial yang tidak selalu tercermin dalam statistik, tetapi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah ketidakpastian global, aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan. Pasar Ramadhan tetap ramai, kebutuhan Lebaran tetap dibeli, dan arus mudik tetap dipersiapkan. Namun, rangkaian peristiwa di luar negeri menunjukkan bagaimana konflik yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia dapat memengaruhi nilai tukar, harga energi, hingga biaya hidup di tingkat rumah tangga.
Menjelang Idul Fitri, situasi ini mengingatkan bahwa stabilitas ekonomi tidak sepenuhnya ditentukan oleh faktor domestik. Ketika harga-harga berisiko naik, daya tahan masyarakat kerap bertumpu pada solidaritas sosial dan kebiasaan saling membantu. Pada saat yang sama, dinamika global menegaskan satu hal: perdamaian tetap menjadi faktor paling menentukan bagi kestabilan, termasuk bagi ekonomi yang sehari-hari dirasakan masyarakat.

