BERITA TERKINI
Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Plastik, Ekonom UGM Jelaskan Efek Domino dari Energi

Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Plastik, Ekonom UGM Jelaskan Efek Domino dari Energi

Lonjakan harga plastik belakangan ini disebut berkaitan erat dengan dinamika global, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah yang memicu gangguan pada rantai pasok energi dan petrokimia.

Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Wisnu Setiadi Nugroho menjelaskan, kenaikan harga plastik merupakan efek domino dari terganggunya distribusi minyak dunia. Salah satu titik krusial yang disorot adalah Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak global. Ketegangan di kawasan tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah dan gasolin secara signifikan.

Kenaikan harga energi kemudian berdampak langsung pada industri petrokimia. Plastik merupakan produk turunan minyak bumi yang diolah menjadi polimer seperti polietilena dan polipropilena. Ketika harga bahan baku energi meningkat, biaya produksi biji plastik ikut terdongkrak, sehingga harga plastik di pasar internasional turut naik.

Selain faktor biaya, situasi konflik juga memengaruhi prioritas distribusi energi. Menurut Wisnu, banyak negara produsen minyak cenderung mengutamakan pasokan energi untuk kebutuhan utama seperti bahan bakar transportasi dan pemanas. Akibatnya, pasokan bahan baku petrokimia, termasuk plastik, menjadi lebih terbatas.

“Dalam situasi konflik, banyak negara eksportir atau pengolah minyak memprioritaskan ketersediaan bahan bakar untuk transportasi dan pemanas dibandingkan produk turunan petrokimia lainnya. Hal ini menyebabkan berkurangnya dan kelangkaan suplai biji plastik di pasar internasional,” ujarnya.

Keterbatasan pasokan tersebut memperparah kenaikan harga plastik di tingkat global. Dampaknya tidak hanya dirasakan industri besar, tetapi juga merembet hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sangat bergantung pada kemasan plastik.