JAKARTA — Eskalasi konflik di Timur Tengah dalam sepekan terakhir dilaporkan mengganggu operasi ekspor sejumlah produsen mobil China. Dampaknya tidak hanya terasa pada penjualan langsung ke negara-negara di kawasan tersebut, tetapi juga merembet ke pasar Afrika Barat dan Afrika Utara yang selama ini dilayani melalui jalur transit Dubai.
Mengutip laporan Carnewschina pada Rabu, 4 Maret, jalur transit melalui Dubai disebut menjadi titik penting dalam distribusi kendaraan ke berbagai negara tujuan. Seorang manajer ekspor dari produsen mobil milik negara China mengatakan bisnis perusahaannya di Iran “benar-benar terhenti.”
Gangguan juga disebut meluas melampaui Iran. Seorang profesional perdagangan otomotif menjelaskan banyak perusahaan mobil China memanfaatkan Dubai sebagai pusat transit untuk menjangkau pasar Timur Tengah lainnya, serta Afrika Barat dan Afrika Utara.
Peran Uni Emirat Arab (UEA) dalam rantai pasok ekspor otomotif China juga kian menonjol. UEA tercatat menjadi tujuan ekspor otomotif terbesar ketiga China pada 2025, setelah Meksiko dan Rusia.
Berdasarkan data yang dikumpulkan Cui Dongshu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Mobil Penumpang China, ekspor kendaraan ke UEA mencapai 567.000 unit pada tahun lalu. Angka itu disebut tumbuh lebih dari 70% dibandingkan tahun sebelumnya, serta melampaui penjualan mobil domestik UEA yang kurang dari 400.000 unit.
“Dubai pada dasarnya berfungsi sebagai gudang perantara, banyak perusahaan mengirimkan kendaraan ke Dubai terlebih dahulu sebelum mendistribusikannya ke tujuan akhir. Pada tahun 2025 saja, perusahaan kami mengirimkan hampir 30.000 kendaraan ke Dubai,” ujar seorang profesional perdagangan otomotif.
Untuk pengiriman, jalur laut masih menjadi metode utama sekaligus paling hemat biaya bagi ekspor otomotif China menuju Timur Tengah. Pelabuhan Jebel Ali di Dubai—pelabuhan terbesar di kawasan—berperan sebagai pusat utama transportasi kendaraan roll-on/roll-off dan menjadi gerbang penting bagi ekspor otomotif China ke Timur Tengah.

