Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menilai konflik bersenjata di Timur Tengah berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi daerah, terutama melalui gejolak harga energi global. Ketegangan yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat disebut dapat menekan rantai pasok internasional dan berdampak hingga ke daerah.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menerapkan kebijakan bekerja dari rumah (work from home/WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) setiap hari Rabu. Emil menjelaskan, kebijakan itu ditujukan untuk efisiensi energi sekaligus langkah responsif menghadapi kemungkinan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat dinamika global.
Menurut Emil, konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada jalur vital Selat Hormuz turut memicu volatilitas harga minyak mentah dunia. Selat tersebut menyalurkan lebih dari 20 persen pasokan minyak global, sehingga gangguan kecil sekalipun dinilai dapat menimbulkan efek luas.
Emil menyebut pelaku usaha, termasuk UMKM, mulai merasakan tekanan biaya. Ia mengatakan UMKM telah mengeluhkan kenaikan harga bahan baku plastik dan BBM. Meski pemerintah pusat berupaya menahan gejolak harga, Emil menegaskan daerah perlu tetap bersikap antisipatif.
Namun, berdasarkan simulasi pemerintah pusat yang melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Bank Indonesia, dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, dampak konflik terhadap Jawa Timur dinilai relatif lebih terkendali dibandingkan sejumlah daerah lain.
Dari sisi perdagangan, Emil memaparkan kinerja yang masih positif. Nilai ekspor Jawa Timur tercatat tumbuh sekitar 16 persen, sementara impor turun 2,7 persen. Pada 2025, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur mencapai Rp3.403,17 triliun, menjadikannya kontributor terbesar kedua terhadap perekonomian nasional.
Kendati demikian, Emil mengingatkan ketergantungan Jawa Timur terhadap perdagangan global tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Dengan kontribusi ekspor mendekati 20 persen, perlambatan ekonomi global dinilai berpotensi memberi tekanan terhadap kinerja ekonomi daerah.
Di sisi lain, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menginstruksikan seluruh kepala daerah kabupaten/kota untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi inflasi, penimbunan barang, hingga aksi panic buying, terutama pada komoditas pangan dan BBM.
Emil menekankan pentingnya menjaga stabilitas informasi agar masyarakat tidak panik. Ia juga meminta aparat daerah bertindak cepat terhadap pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan situasi melalui praktik yang tidak bertanggung jawab.
Pemprov Jawa Timur juga memperkuat koordinasi dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Hiswana Migas untuk memastikan pasokan energi tetap terjaga. Hingga saat ini, stok BBM dan LPG 3 kilogram dilaporkan aman, dengan distribusi berjalan normal.
“Stok BBM mengalir setiap hari. Selama pola konsumsi masyarakat normal, tidak ada kelangkaan. Hingga saat ini tidak ada gangguan terhadap kontinuitas pasokan,” kata Emil.
Terkait perkembangan harga, Emil menyampaikan inflasi Jawa Timur pada Februari 2026 tercatat 4,64 persen. Angka itu disebut dipengaruhi perubahan kebijakan subsidi pada periode sebelumnya. Meski dampak langsung gejolak global terhadap inflasi dinilai masih relatif kecil, Emil menegaskan kondisi tersebut harus menjadi alarm kewaspadaan agar inflasi tetap terkendali dan tidak membebani masyarakat.

