Konflik di Timur Tengah dinilai berpotensi menimbulkan dampak tidak langsung terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia. Anggota DPR RI Komisi XI dari PKB, Hasanuddin Wahid, menyebut bahwa eskalasi di kawasan tersebut dapat dengan cepat berubah menjadi tekanan pada harga energi, nilai tukar rupiah, hingga daya beli masyarakat.
Menurut Hasanuddin, meski secara geografis jauh, dinamika keamanan di Timur Tengah—sebagai salah satu kawasan penghasil minyak dunia—mampu memengaruhi persepsi risiko di pasar global. Ketidakpastian yang muncul, kata dia, dapat segera diterjemahkan pasar menjadi faktor risiko yang berdampak pada perekonomian negara lain, termasuk Indonesia.
Ia menyinggung adanya gencatan senjata selama dua pekan yang sempat disepakati sebagai jeda sementara. Namun, Hasanuddin menilai jeda tersebut tidak serta-merta menghilangkan risiko. Dalam kondisi ekonomi global yang saling terhubung, ia menilai perubahan situasi sekecil apa pun tetap berpotensi memicu tekanan baru.
Hasanuddin juga menyatakan bahwa negara berkembang seperti Indonesia cenderung berada di posisi yang lebih cepat merasakan dampak dari gejolak global. Karena itu, ia menilai konflik di Timur Tengah perlu dicermati bukan hanya dari sisi geopolitik, tetapi juga dari potensi pengaruhnya terhadap stabilitas ekonomi domestik dan ruang fiskal APBN.