Upaya diplomatik terkait konflik di Timur Tengah pada 26 Maret berlangsung di tengah eskalasi serangan militer dan meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan, termasuk risiko gangguan jalur energi strategis di Selat Hormuz.
Pemerintahan Amerika Serikat dilaporkan mengirimkan draf berisi 15 syarat kepada Teheran melalui Pakistan sebagai perantara. Dua pejabat Pakistan menyebut daftar tersebut mencakup pelonggaran sanksi, pembalikan program nuklir Iran, pembatasan rudal, serta pembukaan kembali Selat Hormuz yang dilalui oleh seperlima minyak dunia.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan akan adanya serangan dahsyat terhadap fasilitas energi Iran apabila negosiasi gagal. Dalam proposal itu, AS juga menuntut Iran menyerahkan persediaan uranium yang diperkaya 60% sekitar 450 kilogram kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) serta membongkar fasilitas nuklirnya di Natanz dan Fordo.
Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengatakan AS mengirimkan pesan melalui berbagai perantara, namun hal itu “tidak berarti negosiasi.” Sumber diplomatik menyebut Teheran memandang rencana 15 poin AS sebagai sesuatu yang “sangat radikal dan tidak masuk akal.”
Melalui televisi pemerintah, Iran juga mengumumkan rencana yang mencakup penghentian pembunuhan terhadap para pejabatnya, jaminan tidak ada lagi perang terhadap Iran, ganti rugi perang, penghentian permusuhan, serta “pelaksanaan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.”
Di Eropa, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan Iran untuk “terlibat dalam negosiasi dengan itikad baik.” Sementara itu, Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier mengkritik serangan koalisi terhadap Iran sebagai “kesalahan politik” dan “pelanggaran hukum internasional.”
Qatar menyatakan dukungan terhadap semua upaya diplomatik, baik formal maupun informal, untuk mencegah harga minyak dunia terus berfluktuasi tajam setelah Iran mengancam akan memblokade Selat Hormuz—jalur yang dilalui 95% minyak Jepang. Jepang, menurut laporan tersebut, akan mulai melepaskan minyak dari cadangan milik negara dalam jumlah yang cukup untuk 30 hari pada hari Kamis guna mengurangi gangguan ekonomi akibat penutupan Selat Hormuz.
Di lapangan, pertempuran digambarkan sebagai perang gesekan dengan angka korban yang terus bertambah. Bulan Sabit Merah Iran menyatakan hampir 43.000 bangunan sipil rusak setelah serangan udara koalisi, dengan Teheran mengalami kerusakan di 10.000 lokasi.
Tim pertahanan sipil serta tim pencarian dan penyelamatan dilaporkan masih beroperasi setelah serangan AS dan Israel di distrik Enderzgu di Teheran. Dalam rentang 10 jam pada 24 Maret, Iran disebut meluncurkan tujuh gelombang rudal ke Israel. Meski sebagian besar dicegat, beberapa rudal dilaporkan menembus sistem pertahanan udara di Dimona—lokasi fasilitas nuklir Israel—serta pusat Tel Aviv.
Israel mengklaim telah menghancurkan lebih dari 300 peluncur rudal Iran sejak awal konflik, yang disebut memaksa Teheran menurunkan laju peluncuran dari 90 rudal per hari menjadi sekitar 10 rudal per hari pada pekan terakhir Maret. Kantor berita negara Iran, IRNA, mengutip seorang pejabat Iran yang menyatakan lebih dari 1.750 orang telah tewas di Iran sejak perang antara AS dan Israel dimulai.
Israel juga memperluas permusuhan ke Lebanon dan Gaza. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengeluarkan perintah evakuasi darurat di 52 wilayah permukiman di Lebanon selatan dan memperluas serangan udara di luar benteng-benteng Hizbullah, dengan sasaran termasuk kota-kota sipil seperti Aramoun dan Saadiyat. Tujuannya disebut untuk membangun zona penyangga hingga Sungai Litani, yang dilaporkan memaksa lebih dari 1 juta warga Lebanon meninggalkan rumah mereka.
Sementara itu, situasi di Jalur Gaza juga dilaporkan terus memburuk. Berdasarkan data otoritas kesehatan setempat per 24 Maret 2026, kampanye militer Israel disebut telah menewaskan setidaknya 72.000 orang sejak Oktober 2023. Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, serangan Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya 677 warga Palestina dan melukai 1.813 lainnya.
Laporan yang sama juga menyebut AS merilis angka kerusakan yang dialami Iran dalam Operasi Epic Fury hingga 24 Maret, di tengah berlanjutnya serangan dan upaya diplomasi yang dinilai berpacu dengan waktu.

