DUBAI — Konflik antara Iran dan koalisi Amerika Serikat (AS)–Israel yang memasuki hari ketujuh mulai mengguncang perdagangan otomotif global. Dampaknya, ekspor kendaraan bernilai miliaran dolar dari Asia ke Timur Tengah—salah satu pasar pertumbuhan utama bagi produsen otomotif kawasan—mengalami gangguan serius.
Gangguan logistik terjadi setelah pengiriman melalui Selat Hormuz terhenti akibat meningkatnya risiko keamanan. Situasi disebut kian memburuk setelah adanya serangan Iran terhadap Pelabuhan Jebel Ali di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), yang selama ini dikenal sebagai pusat transshipment kendaraan terbesar di kawasan. Seorang manajer ekspor di produsen otomotif milik China mengatakan bisnis perusahaannya ke Iran “benar-benar terhenti”.
Produsen otomotif China menjadi salah satu pihak yang paling terdampak. Data China Passenger Car Association mencatat, dari total 8,32 juta kendaraan yang diekspor Tiongkok pada 2025, sekitar 1,39 juta unit—hampir seperenamnya—dikirim ke negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan UEA.
UEA tercatat menerima sekitar 567.000 kendaraan China pada tahun lalu. Angka tersebut menegaskan peran Dubai sebagai simpul distribusi penting untuk pasar Timur Tengah, Afrika Barat, dan Afrika Utara.
Gangguan juga meluas seiring sejumlah perusahaan pelayaran menghentikan layanan ke kawasan tersebut, meski operator pelabuhan DP World melanjutkan operasi secara terbatas. Dampaknya merembet ke jalur logistik global, termasuk pengiriman dari China ke Eropa yang kini mengalami penundaan sekitar 10–15 hari setelah kapal dialihkan melalui rute Tanjung Harapan.

