Ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Iran dan Israel mulai berdampak hingga ke Surabaya. Memasuki pertengahan April 2026, warga dan pelaku usaha tahu-tempe merasakan kenaikan harga komoditas berbasis kedelai impor, meski Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyatakan stok pangan secara umum masih aman.
Harga kedelai impor di tingkat grosir tercatat naik dari Rp11.500 per kilogram pada Maret 2026 menjadi Rp12.800 per kilogram pada April 2026, atau meningkat sekitar 11,3%. Kenaikan ini ikut menekan harga olahan kedelai di pasar. Tempe papan ukuran sedang yang sebelumnya dijual Rp5.000 kini menjadi Rp6.000, sementara tahu putih per potong naik dari Rp500 menjadi Rp700.
Ketergantungan Indonesia pada pasokan kedelai dari luar negeri menjadi salah satu faktor yang membuat harga di tingkat lokal rentan bergejolak. Data Kementerian Pertanian menunjukkan sekitar 80%–90% stok kedelai nasional berasal dari impor, terutama dari Amerika Serikat dan Amerika Latin. Ketika konflik terjadi di kawasan strategis, jalur perdagangan laut berpotensi terganggu sehingga pengiriman harus menempuh rute yang lebih aman namun lebih jauh.
Selain risiko gangguan rute, biaya pengiriman internasional juga meningkat. World Bank Commodity Markets Outlook 2026 mencatat ketegangan geopolitik dapat mendorong kenaikan harga minyak mentah dan premi asuransi kapal. Kondisi ini meningkatkan landed cost atau biaya total hingga barang tiba di pelabuhan, termasuk di Pelabuhan Tanjung Perak, yang kemudian berimbas pada harga bahan baku di tingkat perajin dalam hitungan minggu.
Data Siskaperbapo Jawa Timur pada April 2026 mengonfirmasi adanya lonjakan harga kedelai di tingkat grosir, yang membuat pedagang eceran menyesuaikan harga jual. Tekanan harga juga dipengaruhi nilai tukar rupiah yang cenderung melemah terhadap dolar AS di tengah ketidakpastian global, sebagaimana dilaporkan Bank Indonesia. Karena transaksi kedelai dilakukan menggunakan valuta asing, pelemahan rupiah otomatis meningkatkan biaya pembelian.
Di lapangan, sebagian perajin tempe di Surabaya memilih strategi mengecilkan ukuran (downsizing) untuk menyiasati kenaikan harga kedelai impor, alih-alih menaikkan harga secara tajam. Langkah ini ditempuh agar produk tetap terjangkau bagi masyarakat.
Sementara itu, komoditas kebutuhan pokok lain di Surabaya relatif lebih stabil. Harga beras medium berada di kisaran Rp12.900–Rp12.940 per kilogram dan beras premium Rp14.770–Rp14.870 per kilogram, dengan kenaikan di bawah 1%. Minyak goreng curah naik ke Rp19.700–Rp20.200 per kilogram, sedangkan minyak goreng premium tetap di Rp21.000 per liter.
Fluktuasi paling tajam terjadi pada cabai rawit merah yang sempat berada di rentang Rp64.000–Rp80.000 per kilogram, dipengaruhi faktor cuaca dan gangguan distribusi. Telur ayam ras tercatat stabil di Rp30.000 per kilogram, sementara bawang merah berkisar Rp31.000–Rp35.000 per kilogram. Untuk gula pasir, harga berada pada Rp17.100–Rp17.300 per kilogram.
Wali Kota Surabaya menegaskan warga tidak perlu melakukan panic buying meski ada tekanan harga kedelai dunia. Pemkot menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas pangan, antara lain operasi pasar mandiri melalui pasar murah di tingkat kecamatan untuk komoditas yang berfluktuasi tinggi, penguatan stok gudang khususnya untuk beras dan gula, serta intervensi berupa subsidi transportasi guna menekan biaya angkut logistik pangan dari daerah penghasil di Jawa Timur menuju pasar-pasar utama di Surabaya.
Dinamika konflik yang terjadi jauh dari Indonesia menunjukkan dampak nyata pada harga pangan di tingkat rumah tangga. Kenaikan harga kedelai dan produk turunannya menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan lokal masih dipengaruhi pergerakan biaya logistik global dan nilai tukar, sehingga warga perlu lebih cermat mengelola belanja di tengah fluktuasi harga.