SEMARANG — Pelaku usaha di Jawa Tengah berupaya menahan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) meski tekanan akibat konflik global kian terasa. Di tengah situasi yang dinilai sulit, pengusaha memilih langkah penyesuaian seperti merumahkan karyawan sambil berharap kondisi membaik.
Dewan Pertimbangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah, Frans Kongi, mengatakan PHK bukan menjadi pilihan utama. “Paling-paling kita rumahkan saja dengan harapan situasi membaik. Nah, kita juga harapkan pemerintah bantu kita,” kata Frans, Jumat (17/4/2026).
Namun, strategi bertahan ini berpotensi berdampak pada berkurangnya penyerapan tenaga kerja baru. Menurut Frans, masuknya pekerja baru ke pasar kerja bisa menurun seiring perusahaan menahan perekrutan. “Penyerapan tenaga kerja apa tenaga kerja baru yang baru masuk ke ke pasar kerja itu itu berkurang ya,” ujarnya.
Frans menilai tekanan terhadap dunia usaha dipicu berbagai faktor global, mulai dari konflik geopolitik hingga ketidakpastian kebijakan perdagangan internasional. Dampaknya, ekspor dari Jawa Tengah disebut mengalami penurunan, terutama ke kawasan Eropa dan Timur Tengah. “Itu menurun itu Mas. Menurun 20 sampai 30 persen mungkin itu,” katanya.
Selain pelemahan ekspor, lonjakan harga bahan baku turut memperberat kondisi industri. Frans menyebut harga plastik naik hingga 100 persen, yang menyulitkan pelaku usaha yang sudah telanjur terikat kontrak lama. Kenaikan juga terjadi pada bahan turunan minyak seperti polyester yang digunakan di industri tekstil.
Di sisi lain, pasar dalam negeri belum sepenuhnya mampu menutup tekanan tersebut. Meski masih ada peluang untuk mengalihkan penjualan ke dalam negeri, daya beli masyarakat dinilai belum cukup kuat untuk mengimbangi kenaikan biaya produksi. “Memang kita masih bisa cari pasar dalam negeri. Memang bisa. Tapi daya beli juga tidak tidak tidak begitu kuat, Mas,” ujar Frans.
Dalam kondisi ini, pelaku usaha memilih menahan ekspansi dan melakukan penyesuaian agar produksi tetap berjalan. “Mana mau ekspansi ya, mana mau ekspansi keadaan macam begini ini,” kata Frans.
Apindo Jawa Tengah berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menopang dunia usaha, antara lain melalui pengendalian harga bahan baku serta pemberian berbagai insentif agar perusahaan dapat bertahan tanpa harus melakukan PHK.