Konflik global di kawasan Timur Tengah hingga penutupan Selat Hormuz disebut memberi tekanan pada industri tekstil di Indonesia. Dampak situasi tersebut turut dirasakan PT Mitra Saruta Indonesia yang beroperasi di Nganjuk, Jawa Timur.
Direktur PT Mitra Saruta Indonesia, Hoo Yanto Andrian, mengatakan kondisi pasar saat ini mengingatkan pada periode pandemi Covid-19. Ia menyebut, pada masa itu penjualan perusahaan sempat turun hingga 50 persen dalam dua sampai tiga bulan.
Namun, menurut Yanto, perusahaan mulai pulih setelah memasuki bulan keempat. “Tetapi setelah bulan ke-4, kita sudah menaikkan 40-80 persen, jadi recovery rate kita terhadap risiko-risiko tersebut cukup bagus, karena produk-produk alternatif yang kita punya,” ujarnya dalam Media Briefing Kementerian Keuangan di Nganjuk, Kamis (16/4).
Yanto menilai kemampuan beradaptasi menjadi salah satu faktor yang membuat perusahaan tetap bertahan dan mampu menjaga pasar ekspor di tengah ketidakpastian global.
Selama 36 tahun beroperasi, PT Mitra Saruta Indonesia masih mengekspor berbagai produk tekstil ke lebih dari 40 negara. Produk yang diekspor meliputi sarung tangan, benang, dan kaos kaki.
Ia menyebut Jepang menjadi tujuan utama ekspor sarung tangan, disusul Amerika Serikat. Selain itu, perusahaan masih memiliki puluhan pasar ekspor lain untuk produk benang dan kaos kaki.
Yanto menjelaskan aktivitas ekspor mulai dilakukan sekitar dua hingga tiga tahun setelah perusahaan berdiri pada 1989. Pada awalnya, produksi dilakukan di Surabaya dengan menggunakan 20 mesin industri kecil.
Seiring perkembangan, perusahaan kini mempekerjakan sekitar 1.700 pekerja. Yanto menambahkan, seluruh proses produksi dijalankan dengan memanfaatkan bahan daur ulang sebagai bagian dari komitmen industri berkelanjutan.
“Setiap bulan kita memproses sekitar 3.000 ton recycled waste (menjadi produk tekstil berupa benang, sarung tangan, dan kaos kaki), hanya sekitar 10 persen yang kita impor, sisanya dipatok dari UKM,” kata Yanto.