Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel mulai berdampak pada industri manufaktur plastik di kawasan Cibuntu, Kota Bandung, Jawa Barat. Dampak yang paling terasa adalah kenaikan biaya produksi yang disebut meningkat hingga dua kali lipat, seiring melonjaknya harga bahan baku impor.
Salah satu pegawai pabrik plastik di Cibuntu, Riska Surihartati, mengatakan harga biji plastik impor mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Menurutnya, sebelumnya harga biji plastik berada di kisaran Rp 30.000 hingga Rp 40.000 per kilogram, namun kini meningkat menjadi Rp 50.000, bahkan ada yang mencapai Rp 60.000 per kilogram.
“Harga biji plastik saat ini naik drastis. Sekarang sudah lebih dari Rp 50.000, bahkan ada yang mencapai Rp 60.000 lebih per kilonya,” ujar Riska, Selasa (31/3/2026).
Riska menjelaskan, kenaikan harga biji plastik impor tersebut langsung memengaruhi biaya operasional pabrik. Jika biasanya perusahaan mengalokasikan sekitar Rp 40 juta untuk pembelian dua ton biji plastik impor guna kebutuhan produksi selama satu pekan, saat ini biayanya disebut melonjak menjadi Rp 80 juta.
“Kenaikannya tepat dua kali lipat. Stok bahan baku yang mulai susah, karena kami pakai biji plastik impor. Imbas perang Iran sama Amerika Serikat,” tuturnya.
Di tengah kenaikan harga dan pasokan yang disebut makin sulit, pabrik sebenarnya memiliki opsi menggunakan bahan daur ulang dari pemasok lokal. Namun, pihak pabrik mengaku masih ragu karena menilai kualitas bahan daur ulang berada di bawah standar biji plastik impor. Riska menyebut biji plastik daur ulang berasal dari gilingan plastik bekas sehingga kualitasnya lebih rendah dibandingkan bahan orisinal.
“Kurang bagus yang recycle, karena dari bahan reject digiling lagi. Paling cari pemasok lain yang harga biji plastiknya lebih murah,” ujarnya.
Lonjakan harga bahan baku ini membuat biaya produksi ikut meningkat dan mendorong pabrik menaikkan harga jual kepada konsumen. Riska mengatakan, kenaikan tersebut memicu keluhan dari pelanggan, bahkan sebagian di antaranya mengurangi pembelian.
“Konsumen banyak yang mengeluhkan soal harga. Tapi kami juga nggak ada jalan lain, soalnya belum ada pemasok biji plastik yang lebih murah,” pungkas Riska.

