DENPASAR — Lonjakan ongkos logistik global akibat konflik geopolitik yang berkepanjangan mulai menekan daya saing ekspor Indonesia. Situasi ini dinilai menjadi alarm bagi Bali yang tengah didorong mengambil peran strategis sebagai simpul logistik internasional, khususnya untuk kawasan Indonesia Timur.
Ketua Umum Dewan Pengurus Wilayah Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) Provinsi Bali, Anak Agung Bagus Bayu Joni Saputra, mengatakan dinamika global saat ini perlu dibaca sebagai peringatan sekaligus momentum untuk membenahi sektor logistik nasional.
“Sekali lagi kita diingatkan bahwa logistik ... merupakan urat nadi perekonomian dari sebuah bangsa dan daerah. Ketika terjadi gejolak geopolitik, lalu muncul hambatan dalam distribusi, maka efeknya langsung terasa. Terjadi kenaikan biaya, harga ikut terdorong naik, bahkan bisa memicu krisis jika tidak diantisipasi dengan baik,” ujar Bayu Joni, Senin (30/3).
Menurutnya, konflik di kawasan Timur Tengah telah memicu perubahan jalur pelayaran internasional. Kapal-kapal disebut terpaksa memutar rute lebih panjang untuk menghindari wilayah rawan, sehingga waktu tempuh bertambah dan konsumsi bahan bakar meningkat. Dampaknya, biaya operasional logistik melonjak dan langsung dirasakan pelaku ekspor.
Bayu Joni menekankan, kenaikan ongkos logistik tidak hanya memukul dunia usaha, tetapi juga berdampak pada kebutuhan masyarakat sehari-hari. “Politik perang, politik ekonomi global ini tidak hanya berdampak di Timur Tengah. Dampaknya sampai ke dapur rumah tangga. Ibu-ibu yang belanja kebutuhan sehari-hari ikut merasakan. Karena kenaikan ongkos logistik akan berujung pada kenaikan harga bahan pokok, sembilan bahan pokok,” katanya.
Dalam konteks ekspor, ia menilai kenaikan biaya logistik secara langsung menggerus daya saing produk Indonesia di pasar internasional. “Kalau biaya naik tapi harga jual tetap, maka margin tergerus. Ini yang membuat eksportir kita tertekan. Bahkan bisa kalah bersaing dengan negara lain yang sistem logistiknya lebih efisien,” ujarnya.
Di tengah tekanan itu, Bayu Joni menilai Bali memiliki peluang menjadi hub logistik internasional untuk wilayah Indonesia Timur. Ia menyebut posisi strategis, konektivitas internasional, serta potensi komoditas unggulan—terutama sektor perikanan dan kelautan—menjadi modal untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai distribusi nasional dan global.
“Bali ini punya semua prasyarat. Lokasi strategis, konektivitas internasional, dan potensi komoditas unggulan dari Indonesia Timur. Tinggal bagaimana kita membangun sistem logistik yang efisien dan terintegrasi,” ucapnya.
Ia mendorong penguatan infrastruktur seperti cold storage, pelabuhan ekspor, digitalisasi distribusi, serta diversifikasi pasar ekspor agar segera dilakukan. “Kita tidak boleh hanya bicara potensi. Harus ada eksekusi. Infrastruktur logistik harus diperkuat, digitalisasi harus dipercepat, dan kolaborasi harus diperluas. Bali tidak boleh hanya jadi penonton. Kita harus jadi bagian dari solusi. Dan logistik adalah kunci untuk itu,” pungkasnya.

