Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran mulai memicu guncangan pada perekonomian global. Dampaknya terlihat dari pergerakan harga minyak yang kembali menguat, gangguan keamanan dan pengiriman di kawasan Teluk, hingga langkah darurat sejumlah negara untuk mengantisipasi gejolak energi.
Perkembangan terbaru menunjukkan tekanan utama berada pada sektor energi dan jalur pelayaran strategis. Harga minyak kembali naik setelah sempat stabil, dengan patokan Brent menguat 1,8% menjadi di atas US$85 per barel dan kontrak AS WTI naik lebih dari 2%. Dalam periode sebelumnya, harga minyak sempat menyentuh puncak di dekat US$120.
Situasi keamanan di kawasan juga memburuk. Proyektil tak dikenal dilaporkan menghantam dua kapal kargo di lepas pantai Uni Emirat Arab (UEA), seiring meningkatnya serangan di Teluk dan Selat Hormuz. Di Arab Saudi, kementerian pertahanan menyatakan telah mencegat dua drone yang menuju ladang minyak Shaybah di tenggara negara itu, lalu melaporkan lima pencegatan tambahan terhadap drone yang mengarah ke fasilitas yang sama.
Di UEA, kilang minyak terbesar dilaporkan ditutup sebagai langkah pencegahan setelah serangan drone terhadap kompleks industri tempat kilang berada memicu kebakaran. Seorang pengemudi yang bekerja di kompleks tersebut menyebut melihat semburan api menjulang dan mendengar suara keras seperti ledakan.
Dampak perang terhadap pasokan dan distribusi energi mulai terasa di sejumlah negara. Di Pakistan, pengemudi truk tangki melaporkan antrean panjang di depot akibat kekurangan bahan bakar, sementara pemerintah berupaya meredakan kekhawatiran publik terkait potensi kenaikan harga lanjutan. Puluhan truk tangki terlihat terparkir di pinggir jalan pada Selasa di depot dekat Lahore, ibu kota Punjab.
Mesir menaikkan harga bahan bakar domestik hingga 30% dan menyatakan situasi “luar biasa” akibat perang yang mengganggu pasokan minyak serta jalur pengiriman. Kenaikan tersebut berlaku untuk bensin, solar, dan gas alam yang digunakan dalam kendaraan. India juga memerintahkan kontrol yang lebih ketat terhadap gas alam dan gas untuk memasak menyusul gangguan impor, sementara restoran memperingatkan konflik dapat memicu penutupan yang meluas.
Di Eropa, Kepala Bank Sentral Eropa Christine Lagarde memberi sinyal kewaspadaan terhadap risiko inflasi. Ia menyatakan otoritas moneter akan melakukan “segala sesuatu yang diperlukan” untuk menjaga inflasi tetap terkendali selama perang, agar Eropa tidak mengalami lonjakan inflasi seperti pada 2022 dan 2023.
Di tingkat global, Badan Energi Internasional (IEA) mengusulkan pelepasan cadangan minyak terbesar sepanjang sejarah untuk menahan lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah. Usulan tersebut disebut berpotensi melampaui pelepasan 182 juta barel yang dilakukan negara-negara anggota pada 2022 setelah invasi Rusia ke Ukraina. Opsi itu dibahas dalam pertemuan darurat negara anggota IEA, dengan keputusan akhir diharapkan keluar dalam waktu dekat.
Para pemimpin negara G7 juga dijadwalkan menggelar konferensi video untuk membahas dampak ekonomi konflik, terutama terkait kondisi pasar energi global. Kepresidenan Prancis menyebut pertemuan ini sebagai diskusi pertama G7 mengenai dampak ekonomi perang tersebut dan menekankan pentingnya koordinasi ekonomi untuk merespons gejolak yang muncul.
Ketegangan turut berpusat di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak dunia. Menteri Energi AS sempat menyatakan Angkatan Laut AS mengawal kapal tanker melewati selat tersebut, namun pernyataan itu kemudian dihapus. Gedung Putih menegaskan tidak ada pengawalan kapal tanker oleh Angkatan Laut AS. Di sisi lain, Garda Revolusi Iran menyatakan tidak ada kapal perang AS yang mendekati selat tersebut, yang disebut praktis ditutup sebagai balasan atas serangan AS-Israel. Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran agar tidak menanam ranjau di jalur pelayaran vital itu.
Reaksi pasar keuangan global bergerak beragam di tengah ketidakpastian geopolitik. Bursa Paris dan London masing-masing naik lebih dari 1,5%, sementara Frankfurt menguat hingga 2,4%. Di Asia, indeks saham Seoul melonjak lebih dari 5% dan Tokyo naik 2,9%. Namun, pasar saham AS yang sempat menguat pada awal perdagangan ditutup melemah. Kenaikan di sejumlah bursa terjadi setelah harga gas di Eropa turun sekitar 15%, yang meredakan sebagian kekhawatiran tentang lonjakan inflasi global.

