BERITA TERKINI
Konflik AS-Israel dengan Iran Masuk Hari ke-26, Serangan Berlanjut di Tengah Upaya Diplomasi dan Gangguan Selat Hormuz

Konflik AS-Israel dengan Iran Masuk Hari ke-26, Serangan Berlanjut di Tengah Upaya Diplomasi dan Gangguan Selat Hormuz

Konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memasuki hari ke-26 pada Rabu, 25 Maret 2026. Rentetan serangan rudal dan drone dilaporkan menghantam wilayah Iran, Israel, serta kawasan Teluk, di tengah sinyal yang dinilai saling bertentangan dari Washington—antara ancaman eskalasi dan pernyataan keterbukaan terhadap kesepakatan politik.

Dampak konflik meluas ke pasar energi global seiring terganggunya jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Situasi keamanan yang tidak menentu juga membuat jutaan warga di kawasan hidup dalam ketidakpastian.

Di Iran, pejabat dan analis menyatakan pemerintah di Tehran menolak proposal 15 poin dari Amerika Serikat untuk mengakhiri perang. Proposal itu disebut bersifat maksimalis dan tidak realistis. Mereka juga menuding Washington tidak tulus dalam jalur diplomasi karena, pada saat yang sama, terus mengerahkan puluhan ribu personel militer dan menggencarkan serangan udara.

Komando Pusat AS (CENTCOM) dilaporkan menempatkan lebih dari 50.000 tentara di Timur Tengah. Penempatan itu disebut mencakup dua gugus kapal induk, pesawat tempur, serta satuan elit seperti 82nd Airborne dan unit ekspedisi marinir.

Amerika Serikat juga merilis rekaman serangan terhadap infrastruktur militer Iran dengan alasan untuk melumpuhkan kemampuan rudal, drone, dan jaringan Garda Revolusi. Sementara itu, laporan dari lapangan menggambarkan suasana kebingungan di dalam negeri, ketika warga mendengar klaim adanya ruang diplomasi namun di saat yang sama menyaksikan serangan bom dan rudal terus terjadi.

Seorang analis Iran menyebut tujuan Tehran adalah mengakhiri perang dengan syarat yang tetap menjaga kemampuan deterens militernya, agar konflik tidak mudah kembali menyala setelah gencatan senjata.

Krisis turut memuncak di Selat Hormuz. Ribuan pelaut dan ratusan kapal komersial dilaporkan tertahan akibat risiko serangan dan kemungkinan blokade, memicu kekhawatiran kemanusiaan sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap gejolak harga energi. Sejumlah negara Eropa, termasuk Prancis, disebut sedang membahas opsi untuk memulihkan keamanan pelayaran di jalur laut tersebut.

Di kawasan Teluk, sebuah serangan drone dilaporkan memicu kebakaran pada tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait. Otoritas penerbangan sipil setempat menyatakan tidak ada korban jiwa, dan kerusakan dilaporkan terbatas pada fasilitas.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Arab Saudi melaporkan berhasil mencegat puluhan drone dan rudal balistik yang menargetkan Provinsi Timur—wilayah yang menjadi lokasi infrastruktur minyak utama seperti Ras Tanura, Ghawar, dan Abqaiq—dalam kurun waktu kurang dari 12 jam.