BERITA TERKINI
Konflik AS-Israel dan Iran Dinilai Mempercepat Pergeseran Dunia ke Multipolar, Risiko Ketegangan Baru Meningkat

Konflik AS-Israel dan Iran Dinilai Mempercepat Pergeseran Dunia ke Multipolar, Risiko Ketegangan Baru Meningkat

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran dinilai belum sepenuhnya berakhir. Meski intensitasnya mereda, dampaknya disebut telah meluas dari Timur Tengah ke tatanan global.

Ilmuwan politik Georgy Asatryan menilai konflik ini menjadi titik balik yang mempercepat pergeseran dunia dari sistem unipolar menuju multipolar. Ia menyebut perlawanan Teheran mempercepat pergeseran tersebut, sebagaimana dikutip RT pada Kamis (16/4/2026).

Asatryan juga berpendapat langkah militer Washington justru ikut melemahkan sistem global yang selama ini dibangun AS. Menurutnya, harapan bahwa Iran akan runtuh cepat di bawah tekanan militer tidak terwujud.

Alih-alih menyerah, Iran disebut menunjukkan ketahanan yang signifikan meski mengalami kerugian besar, termasuk di jajaran pimpinan. Asatryan menilai Teheran mampu beradaptasi, menyerap tekanan awal, lalu mulai mengarahkan konflik sesuai kepentingannya. Ia bahkan menyebut Korps Garda Revolusi Iran mampu menantang dominasi operasional militer AS di sejumlah sektor.

Dampak konflik ini, menurut Asatryan, melampaui medan perang. Salah satu perkembangan yang dianggap paling krusial adalah blokade Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi energi global. Langkah tersebut dinilai memaksa negara-negara besar menghadapi risiko gangguan pasokan dan kenaikan harga energi. Sejumlah negara bereaksi cepat, termasuk India yang menggelar pembahasan darurat terkait keamanan energi nasional.

Asatryan menilai strategi Iran berhasil memperluas tekanan konflik hingga ke luar kawasan. Dalam jangka panjang, ia memandang kondisi ini mendorong dunia memasuki fase militerisasi yang lebih intens, ketika negara-negara semakin berani bertindak unilateral dan kekuatan militer kian sering digunakan sebagai instrumen kebijakan.

Ia juga menyoroti memudarnya konsep pengekangan yang sebelumnya menjadi fondasi stabilitas global, yang menurutnya digantikan oleh meningkatnya rasa impunitas di antara negara-negara. Dampaknya, ketegangan disebut meluas ke berbagai kawasan.

Asatryan mencontohkan meningkatnya bentrokan dan serangan lintas batas di perbatasan Afghanistan-Pakistan, serta memanasnya kembali rivalitas India dan Pakistan. Dengan kedua negara memiliki senjata nuklir, ia menilai bahkan konflik terbatas di kawasan tersebut dapat membawa implikasi global.

Selain itu, ia menyebut sejumlah wilayah lain—dari Asia Selatan hingga Karibia—mulai menunjukkan tanda-tanda ketegangan baru. Fenomena ini dinilai sebagai bagian dari pola yang lebih luas, ketika melemahnya aturan global membuka ruang lebih besar bagi eskalasi konflik.

Menurut Asatryan, dunia bergerak menuju fragmentasi dengan aliansi yang semakin rapuh dan aturan yang kian kehilangan daya ikat. Blokade Hormuz, ketahanan Iran, serta kegagalan AS meraih kemenangan cepat disebut menjadi indikator perubahan keseimbangan kekuatan global. Ia menilai bahkan negara tingkat menengah kini dapat menantang kekuatan besar dan memaksanya masuk ke dalam kebuntuan strategis.

Asatryan memperingatkan bahwa pelajaran paling berbahaya dari konflik ini adalah munculnya keyakinan bahwa kekuatan militer dapat digunakan tanpa konsekuensi besar. Ketika pandangan tersebut semakin meluas, ia menilai risiko munculnya konflik baru juga meningkat.