BERITA TERKINI
Konflik AS-Israel dan Iran Dinilai Berisiko Tekan Ekonomi Indonesia pada 2026

Konflik AS-Israel dan Iran Dinilai Berisiko Tekan Ekonomi Indonesia pada 2026

Konflik global yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran dinilai berpotensi memberi tekanan pada perekonomian Indonesia. Pengamat ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Gigih Prihantono memperkirakan dampak tidak langsung dari konflik tersebut terhadap ekonomi Indonesia dapat mencapai 20 hingga 25 persen.

Gigih menilai besaran dampak itu tergolong tinggi dan berisiko menyeret kinerja ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Ia menyampaikan pandangan tersebut saat dihubungi pada Jumat (6/3/2026).

Selain faktor eksternal, Gigih juga menyoroti tekanan dari kebijakan perdagangan internasional, khususnya rencana meratifikasi Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan AS. Menurutnya, terdapat poin-poin dalam perjanjian itu yang dinilai merugikan dan berpotensi memperburuk kondisi ekonomi pada 2026.

Dengan tambahan tekanan eksternal tersebut, Gigih menilai target pertumbuhan ekonomi delapan persen yang dicanangkan pemerintah akan semakin sulit dicapai. Ia mengacu pada data pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa triwulan terakhir yang berada di bawah lima persen, yakni sekitar 4,8 hingga 4,9 persen.

Gigih menegaskan, tanpa reformasi yang masif dari pemerintah, target pertumbuhan ekonomi delapan persen dinilai tidak realistis. Ia menyarankan penguatan strategi transformasi ekonomi dengan menekan biaya produksi dalam negeri agar produk ekspor menjadi lebih murah dan kompetitif di pasar global, seperti yang dilakukan China atau Jepang.

Namun, Gigih mengatakan ia belum melihat keseriusan pemerintah untuk mengambil langkah reformasi besar tersebut. Menurutnya, hal itu membuat posisi ekonomi Indonesia belum benar-benar kuat.

Ia juga menilai persoalan klasik seperti ketergantungan pada harga minyak dunia dan rendahnya daya saing ekspor masih menjadi beban yang perlu segera diselesaikan pemerintah.