JAKARTA — Perempuan dari berbagai negara kembali menegaskan perannya sebagai aktor penting dalam membangun perdamaian dunia melalui “Only Peace Conference 2026” yang digelar International Women’s Peace Group (IWPG) Wilayah Global 1 secara daring pada 28 Februari 2026.
Konferensi internasional bertema “Voice of Peace: How Women Sustain Peace” itu diikuti sekitar 80 peserta dari sejumlah negara, termasuk Korea Selatan, Filipina, Indonesia, Nigeria, India, Eswatini, dan Amerika Serikat. Agenda tersebut disebut bertujuan menetapkan visi perdamaian global 2026 sekaligus memperkuat kepemimpinan perempuan dalam resolusi konflik dan pembangunan perdamaian berkelanjutan.
Direktur Regional IWPG Global Region 1 Yeon-kyoung Kang menyatakan konferensi ini menjadi momentum untuk menegaskan bahwa perempuan bukan semata korban konflik, melainkan juga agen perubahan yang mampu mencegah konflik dan mentransformasi masyarakat. Dalam pidato penutupnya, ia menekankan pentingnya pendidikan perdamaian sebagai pijakan agar perempuan dapat memimpin pencegahan konflik serta perubahan di tingkat komunitas.
Dalam sesi pemaparan, para pembicara perempuan dari berbagai negara membagikan pengalaman terkait pendidikan perdamaian, konflik sosial, serta peran perempuan dalam menjaga harmoni di tengah masyarakat.
Wakil Presiden Federasi Nasional Klub Wanita Filipina, Erlinda Olivia Tiu, menilai kekerasan bukan solusi jangka panjang. Menurutnya, dialog dan saling menghormati menjadi kunci membangun perdamaian yang bertahan lama. Ia juga menyampaikan pengalaman memimpin penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Leyte Normal University dan IWPG untuk mendorong pendidikan perdamaian serta pemberdayaan perempuan dan pemuda.
Dari Indonesia, Ketua Yayasan Lentera Habibi Aceh Athaya Rumaisha menyoroti peran perempuan dalam transformasi sosial di wilayah konflik. Ia menyebut perempuan di Aceh sebagai agen perdamaian yang mendorong transformasi regional dengan nilai kasih sayang, empati, dan tanggung jawab. Athaya juga mendorong perluasan pendidikan perdamaian bagi perempuan serta penguatan kerja sama internasional guna membangun budaya non-kekerasan.
Sementara itu, perwakilan Komite Perdamaian Nigeria Omgbu Odiri Obukowho Margaret menekankan bahwa proses perdamaian tidak akan lengkap tanpa keterlibatan perempuan. Ia menyampaikan, ketika pemimpin perempuan terlibat dalam komite perdamaian, perdamaian dapat menyebar secara alami dari pemerintah hingga masyarakat.
Dalam konferensi tersebut, IWPG Global Region 1 juga merumuskan sejumlah agenda strategis untuk memperluas gerakan perdamaian global, yakni memperluas pendidikan perdamaian, memperkuat kapasitas instruktur perdamaian, serta membangun jaringan perempuan global.
IWPG dijadwalkan memaparkan visi dan strategi gerakan perdamaian global dalam Forum LSM daring internasional pada 17 Maret 2026. Organisasi ini juga berencana memanfaatkan momentum Sidang ke-70 Komisi PBB tentang Status Perempuan (United Nations Commission on the Status of Women) untuk memperluas kerja sama dengan organisasi internasional dan LSM di berbagai negara.
IWPG merupakan organisasi perempuan internasional yang telah diakui United Nations Economic and Social Council (ECOSOC) dan United Nations Department of Global Communications (DGC). Organisasi ini berfokus pada pembangunan perdamaian dunia berkelanjutan melalui pendidikan perdamaian dan penguatan jaringan perempuan global. Adapun Only Peace Conference disebut sebagai forum perdamaian internasional unggulan IWPG yang mempertemukan para pemimpin komunitas dunia untuk berbagi solusi dalam membangun perdamaian global.

