Konferensi dan pameran pendidikan internasional Asia-Pacific Association for International Education (APAIE) 2026 resmi ditutup di Hong Kong setelah berlangsung pada 23–27 Februari. Dalam upacara penutupan, Presiden APAIE yang akan segera mengakhiri masa jabatannya, Venky Shankararaman, menyebut penyelenggaraan tahun ini sebagai acara yang berkesan dan sukses.
Dalam pidatonya, Venky mengatakan ia banyak berinteraksi serta bertukar pikiran dengan para delegasi dan mencatat sejumlah pengalaman menarik selama rangkaian kegiatan. Ia juga menilai partisipasi aktif sponsor, pembicara, serta lembaga pendidikan tinggi dan pihak lain menjadikan konferensi dan pameran kali ini sebagai yang paling dinamis dan terbesar yang pernah diselenggarakan APAIE.
Venky menekankan bahwa pekerjaan lanjutan baru dimulai setelah para peserta kembali ke negara masing-masing. “Ketika kita kembali ke tanah air, pekerjaan sesungguhnya baru dimulai. Pertemuan tidak mengubah dunia; hanya orang-orang, kemitraan, dan kerja sama berkelanjutan yang dapat melakukannya,” ujarnya. Ia berharap kontak dan nota kesepahaman yang terjalin dapat diwujudkan, sekaligus menyatakan keyakinannya kepada penggantinya, Mohd Arrifin Abu Hassan, serta Malaysia sebagai tuan rumah APAIE 2027.
Setelah pidato Venky dan Denis Lo, Presiden Universitas Tionghoa Hong Kong, bendera simbolis APAIE diserahkan kepada perwakilan Malaysia. Sesuai rencana, APAIE 2027 akan digelar di Malaysia International Trade and Exhibition Centre, Kuala Lumpur, pada Maret 2027.
APAIE 2026 mengusung tema kerja sama Asia-Pasifik untuk manfaat global. Penyelenggara mencatat kegiatan ini menjadi yang terbesar sejak organisasi tersebut berdiri, dengan lebih dari 3.000 delegasi dari hampir 70 negara dan wilayah.
Dalam kerangka APAIE 2026, delegasi Vietnam yang dipimpin Kementerian Pendidikan dan Pelatihan, bersama 17 lembaga pendidikan tinggi dan organisasi pendidikan, turut berpartisipasi secara aktif. Area pameran Vietnam (Pavillon Vietnam) disebut menjadi lokasi berbagai pertemuan, pertukaran, dan penandatanganan kerja sama.
Selain mengikuti agenda yang disusun Kementerian Pendidikan dan Pelatihan melalui Departemen Kerja Sama Internasional, unit-unit dari Vietnam juga menyelenggarakan berbagai kegiatan, di antaranya memperkenalkan program pelatihan dan kerja sama, bertemu mitra terkait pertukaran pelajar, undangan dosen internasional, pelatihan bersama, hingga usulan pembukaan kampus cabang. Delegasi juga membahas hubungan dengan organisasi yang mewakili studi di luar negeri serta menandatangani nota kesepahaman penelitian dan pelatihan. Sejumlah pemimpin lembaga pendidikan tinggi dan organisasi pendidikan Vietnam juga mempresentasikan makalah dan berbagi informasi mengenai potensi kerja sama pendidikan di Vietnam.
Direktur Departemen Kerja Sama Internasional Kementerian Pendidikan dan Pelatihan Vietnam, Nguyen Thu Thuy, yang memimpin delegasi Vietnam di APAIE 2026, menyampaikan laporan awal bahwa delegasi Vietnam telah mengadakan lebih dari 400 pertemuan dan interaksi dengan mitra dari berbagai negara. Delegasi juga disebut bekerja sama erat dengan lebih dari 100 mitra untuk menjalankan beberapa program pertukaran mahasiswa, dosen, dan ilmuwan serta proyek penelitian pada 2026.
Menurut Thuy, universitas-universitas Vietnam menandatangani puluhan nota kesepahaman yang berfokus pada pertukaran ilmiah dan mahasiswa, pengembangan proyek, serta pengamanan pendanaan internasional. Ia menyebut sejumlah mitra potensial lainnya masih dalam tahap negosiasi dan ditargetkan menandatangani perjanjian kerja sama dalam waktu dekat.
Thuy menilai partisipasi yang proaktif dan terencana meningkatkan citra serta posisi Vietnam dan masing-masing unit di komunitas akademik internasional, sekaligus membuka peluang kerja sama strategis baru bagi perguruan tinggi Vietnam dalam agenda internasionalisasi.
Di luar agenda konferensi, Departemen Kerja Sama Internasional Kementerian Pendidikan dan Pelatihan Vietnam bersama Konsulat Jenderal Vietnam di Hong Kong juga mengadakan sesi kerja dengan sejumlah lembaga setempat, termasuk Biro Pendidikan Hong Kong, Organisasi Pendidikan Kejuruan Hong Kong, serta Organisasi Pendanaan Universitas Hong Kong. Pertemuan tersebut dinilai membuka peluang kerja sama antara Kementerian Pendidikan dan Pelatihan Vietnam dengan lembaga dan organisasi terkait, serta universitas dan lembaga pendidikan kejuruan di Hong Kong.
Delegasi Vietnam juga menyampaikan apresiasi atas dukungan perwakilan diplomatik Vietnam di Hong Kong, termasuk Konsul Jenderal Vietnam di Hong Kong, Le Duc Hanh. Thuy menyebut keberhasilan APAIE 2026 menjadi awal yang baik bagi upaya internasionalisasi pendidikan tinggi Vietnam.
Sejumlah unit peserta menilai kehadiran di APAIE menjadi kesempatan untuk memperluas kerja sama dan memperkuat posisi dengan mitra regional dan global, sekaligus mempererat koneksi antarlembaga pendidikan tinggi dan organisasi pendidikan dari Vietnam. Mereka juga menyatakan keinginan untuk kembali berpartisipasi dalam agenda APAIE berikutnya, termasuk konferensi dan pameran di Malaysia, dengan persiapan yang lebih menyeluruh dan sistematis.
Dalam laporan tersebut, kehadiran Vietnam sebagai “Paviliun Nasional” di APAIE 2026 digambarkan bukan hanya sebagai kegiatan promosi, melainkan langkah strategis menuju visi menjadi pusat penelitian dan pelatihan internasional baru di kawasan. Fokus yang disorot mencakup promosi pendaftaran mahasiswa internasional, upaya menyeimbangkan arus pendidikan, menarik investasi asing langsung (FDI) di bidang pendidikan, menarik ilmuwan dan dosen Vietnam maupun internasional untuk bekerja di Vietnam, serta diplomasi pendidikan dan penguatan citra pendidikan Vietnam.
APAIE merupakan singkatan dari Asia-Pacific Association for International Education. Organisasi ini didirikan di Seoul, Korea Selatan, pada 2004 oleh sekelompok 13 universitas, dengan tujuan mempromosikan nilai pendidikan, memperkuat kerja sama antarlembaga pendidikan, mendukung program pertukaran internasional, serta menghubungkan organisasi pendidikan di kawasan Asia-Pasifik dengan dunia.

