Anggota Komisi I DPR RI Farah Puteri Nahlia menyatakan dukungan penuh terhadap langkah pemerintah dalam upaya pembebasan empat warga negara Indonesia (WNI) yang disandera perompak di Somalia. Ia menegaskan, keselamatan para sandera harus menjadi prioritas utama dalam penanganan kasus tersebut.
Menurut Farah, pemerintah sedang menempuh berbagai jalur, mulai dari diplomasi, negosiasi, hingga perlindungan konsuler. Ia menekankan bahwa perlindungan terhadap warga negara merupakan kewajiban konstitusional yang tidak dapat ditawar.
“Bagi empat warga negara Indonesia, saudara-saudara kita semua, mereka tidak sedang berjuang sendirian. Di belakang mereka, ada negara. Ada diplomasi. Ada seluruh rakyat Indonesia yang menanti mereka pulang dengan selamat,” kata Farah kepada wartawan, Senin (4/5/2026).
Farah menyampaikan Komisi I DPR RI, yang membidangi pertahanan, luar negeri, komunikasi, dan intelijen, terus memantau perkembangan situasi. Ia menyatakan pihaknya siap memberikan dukungan politik, diplomatik, serta mendorong penguatan koordinasi antar-lembaga agar proses pembebasan dapat berjalan optimal.
Ia juga mengingatkan bahwa operasi pembebasan sandera membutuhkan tingkat kehati-hatian yang tinggi. “Kita memahami bahwa operasi seperti ini membutuhkan kehati-hatian tinggi. Ini bukan hanya soal negosiasi, tetapi juga soal nyawa,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Farah menyampaikan empati kepada keluarga para korban, termasuk keluarga Kapten Ashari Samadikun dan seluruh kru Indonesia. Ia mengatakan dukungan bangsa Indonesia menyertai keluarga para awak kapal yang terdampak.
Di tengah meningkatnya kembali ancaman pembajakan di kawasan Afrika, Farah menilai peristiwa ini menjadi pengingat penting perlunya penguatan sistem perlindungan pelaut Indonesia. Ia juga menyoroti kebutuhan mitigasi risiko bagi awak kapal yang bekerja di jalur maritim berisiko tinggi serta penguatan kerja sama keamanan maritim internasional.
Farah menegaskan Komisi I DPR RI akan terus mengawal perkembangan kasus ini hingga seluruh WNI dapat kembali ke tanah air dengan selamat.
Sebelumnya, dua insiden pembajakan kapal oleh perompak Somalia kembali terjadi pada April–Mei 2026. Salah satunya menimpa kapal tanker Honour 25 yang membawa 18.500 barel minyak dan diawaki 17 orang, termasuk empat WNI. Kapal tersebut dilaporkan dikuasai kelompok bersenjata di perairan Somalia, sehingga para awak menjadi sandera.